Selayaknya Pagi Menjawab Salammu

April 9, 2008

Monolog malam telah usai, terlepas bersama harapan yang mulai perlahan dikikis hujan yang datang terlalu awal. Bagimu, para pejuang yang mempertahankan malam, pekik suara kalian yang menantang keheningan dengan nyanyian himne kalian, adalah suara yang abadi.

K e k a l .

Harapan untuk hari esok yang lebih baik adalah kata-kata semu, karena pagi tak kan pernah datang. Selayaknya kalian ksatria pagi yang menjawab salammu, adalah bualan dongeng menjelang tidur bagi anak-anak dari para tetua bijak. Memupuk harapan atas kenyataan pada kebohongan. Kalian memuja apa yang tidak pernah nyata, kalian menyembah bualan-bualan yang dibuat otak kosong kalian sendiri, kalian adalah budak dari segala macam nafsu yang kalian yakini.

Hakimi hatimu! Hakimi otak kosongmu.

Apa lagi yang kau tangisi, apalagi yang kau perlu sesali. Tak ada yang nyata. Ia pergi tanpa sedikitpun mengucapkan salam kepadamu. Meninggalkanmu sendiri seperti kain lusuh. Membiarkanmu merajut benang-benang basah. Sebentar kemudian, melepaskanmu terbang menguap menuju awan hitam yang membawa petaka bagi semua orang.

Terpujilah para ksatria kegelapan.
Selamat datang, abad kegelapan.


Modern Bandung

March 13, 2008

I wish i can write this in English, so that anyone, not just Indonesian, can understand my thinking and my point of view about this beloved city. But, let’s just talk like an Indonesian actress who being quite a hot blog topic few weeks ago. Chinca Lawra. * halah *

So, as I posted in this blog last year (or 2006), there’s so many changes happened in this Parijs van Java. I wouldn’t want to talk seriously about the change. Because it’s a just junk feeling from my brain. I didn’t spend much time in Bandung for the past two years, only at weekends when this city is crowded with visitors. And, I spent much of my time in Bandung, at Buah Batu or Cibiru, southern part of Bandung, which more like suburban area. Away from Dago, Braga, and any other tourism area.

Lucky me, my manager offered me to take course in Bandung. So I spent 5 days in Bandung, stay in nice hotel in Dago Atas (I wouldn’t mention the hotel because i have little negative comment about this hotel). Enjoying fresh air, nice green grass in the garden behind my room here in the hotel. Bandung at this time, remind me of first time I came to Bandung, it was 1998, and it always raining at noon. Smell of fresh air is the menu for lunch.

Since, I have many memories here, so I tried to spend sometimes to look around for my favorites food when I was stay here in Dago area. There was a good Soto Jakarta and Ayam Cola food stall at Simpang Dago. Late 2006 they opened another branch of Soto Jakarta, near Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP) in Cisitu area). I really want to tasted Ayam Cola at my first night here in Bandung. It’s just standard chicken baked with cola * I don’t know how to describe it in English, you can ask someone else who know about it - sorry *. But it was just unlucky for me, or it’s just I couldn’t find the food stall. I couldn’t found it Simpang Dago area, and also in Cisitu.

We entered Cisitu area from Istana Dago housing complex, it’s a big-nice-lux housing complex, but the rain has beaten the paved road to become as bad as Gatot Subroto road in Jakarta. Shame on all local government, they charged tax but no service has been delivered to their citizens. Coming down the road to Cisitu Baru, I saw a lot of new building still under construction. This thing has came to my mind before I left Cisitu, the economy has grown in Cisitu, now there’s a lot of new Houses that their rooms are available for rent. My analysis is, since many new habitant of Cisitu area come from Jakarta, those who can afford to pay good money for good rooms, and driving good car in small-narrow-street of Cisitu, so there’s a lot of new nice house built in Cisitu. Thus this area has become some middle to upper area. Don’t sue me because of my opinion, it was just a way I looked at Cisitu this day.

The next night I spent in Bandung, mostly I spent in my hotel rooms. I only to find some food. One night, I went to a famous small Chinese food restaurant in Tubagus Ismail. This is my escape place, when I don’t have any idea what should I eat. I ordered Nasi Goreng, as usual like the old days. But, maybe the usual chef has been promoted somewhere, the Nasi Goreng was not as good as I used to eat a few years back.

Time goes by, people changes, even all the static thing has change because of us wanted to change it.

But memories still remain the same. I love this city.


Alasan

March 7, 2008

Sekian lama tidak menulis, sekian lama produktivitas (atau produktifitas?) dikesampingkan atas nama kesibukan. Padahal hanya ketidak-becusan manajemen waktu!!! Dalih,”sebenarnya sih banyak yang pengen ditulis, tapi, begitu ke depan laptop, jadi hilang semua yang pengen ditulis”. Ya itu cuma dalih.

Oke, dalih yang lebih baik lagi sekarang,

Saya lagi seneng membaca sekitar, daripada menulis tentang sekitar.

* halah *


Mengucap Salam dan Membisikkan Doa

January 15, 2008

Melalui mendung yang berkumpul di langit-langit metropolitan sore ini. Menggurat sebanyak-banyaknya awan itu dengan tangan kecilku, mencoba membuatkan jalan demi cahaya sore yang terasa hangat. Untuknya agar ia mampu meraih sedikit kehangatan membasuh wajahnya, tangannya, serta kepalanya. Mensucikan diri dengan cahaya kehangatan yang hakiki serta abadi, sebelum sesudahnya mengangkat tangan, bermunajat pada Penguasa Matahari.

Duniaku berputar dengan kamu didalamnya[1], sebagai poros yang menarikku kembali ke putaran orbit, apabila aku pergi menjauh dari jalan yang seharusnya kulalui. Kemudian mendekapku penuh kasih sayang. Untuk apa membaca doa untukmu yang menguasai hidupku, selayaknya engkau menarikku dalam setiap kata yang kau ucapkan sebagai doa

[1] Dari bukunya Adhitya Mulya, Gege Mengejar Cinta


Last Day of 2007

December 31, 2007

Ya, gw memutuskan gw harus nulis postingan terakhir 2007. Sekedar jadi cerminan dan bahan pengingat gw di tahun 2008. Ada satu kalimat yang gw baca di Al-Tanwir, sebuah buletin dakwah dari Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Muthahhari. Dari sebuah tulisan yang ditulis (ya iyalah!, masa tulisan di rendem!), oleh KH. Jalaluddin Rakhmat, beliau merujuk suatu riwayat, yang mana saya rupa riwayatnya begini. Kira-kira begini,

“Setan berkata pada manusia: aku heran pada kalian manusia, aku yang HANYA melanggar SATU perintah-Nya saja, diusir dari surga dan dikutuk sepanjang kehidupan kami. Sementara kalian SETIAP HARI melanggar perintah-Nya, tapi kalian tak pernah merasa takut akan siksa-Nya.”

Waktu berlalu, sedemikian harapan pun tumbuh dan kenangan pun berlalu. Semoga tahun depan kita terus meningkatkan diri kita menjadi manusia yang berguna.