Mediocre

Mediocrity adalah masa lalu bagi saya. Sudah cukup bagi saya tergabung dalam tim yang biasa-biasa saja. Tergabung dalam kumpulan yang biasa-biasa saja. Bagi saya, tak ada masalah apabila saya dan Anda tergabung dalam hal yang biasa saja. Dulu saya mengiyakan saja hal itu. Kini bagi saya, persetan dengan hal yang biasa saja.

Saya tidak perduli apabila kita adalah orang-orang yang medioker setidaknya attitude, determination, dan passion kita tidak mediocre. 

We should held up high our attitude, determination, and passion!

Mediocre

Looking for good Budget Planner apps

So, I got this new fancy phone now. And now I want to track everything I do with my phone. *doh* Now I’m just like any other modern busy people :) Anyway, I got all setup that I need for my todo-list, for messaging, RSS reader, reddit, even I installed pedometer on my phone. So far I’m all up and running.

But there is this one thing that I couldn’t find, a good budget apps, expense tracker apps kinda like. Its not like there is not  many good apps out there, there are tons of good apps out there. The problem is, they’re just too good! I just want something simple. I’m using Google Spreadsheet right now, and I’m satisfied with it right now. It’s just, I’m not satisfied with the aesthetic of it. I mean, its 2015, function only is not enough :)

My Google Spreadsheet budget planner/expense tracker, is just simply like this,

Yup that too smalls *evil grin*, it is basically just a spreadsheet with

  1. Showing the month, and list of expense based on date
  2. What is the name of expense? Maybe put category in it.
  3. Four columns consist of  Debit+Credit for Forecast Expense, and Debit+Credit for Actual Expense, with their Forecasted and actual balance
  4. It will be good to have summary for expenses every month
  5. Remarks

It will be good if I can run a report every month, but I don’t really need it. Because with this kind of style, its just like you read the old version of your bank passbook, you just need to see the last line, and you know how much actual balance that you have.

Do you know any simple apps like this?

Looking for good Budget Planner apps

Writing to Calm Your Mind

Today i just realized, how writing can calm my mind. I started writing a blog not a long time ago. This is my second blog, the first one was seismogenic.blogsome.com, I deleted it, and I think even blogsome is no longer in service. I don’t recall any other medium that I use to write. I don’t like writing in a diary book. Maybe because I type faster than I really hand write. Even though looking at the posting habit in this blog shows that I’m a lazy writer.

I feel calm when writing. I guess that’s the result of you try to focus your mind, your brain. You concentrate hard. And then when a sentence came up, a paragraph, and  a post. You felt satisfied, that you have achieved something. That’s make you feel good. That’s make you feel calm.Especially when you write about what you really feel in your heart. Let the feeling come out.

Obviously, that doesn’t always go well. A writers block some might say. Or just lazy. Some words really cannot describe what you really feel. Or even you cannot even move on from just one sentence. But I guess, it’s part of the process. And if you manage to get past of this writer block. You will even feel happier.

I should write more :)

Writing to Calm Your Mind

Seberapa Keras Kita Berjuang?

Tanpa perlu disadari, hidup adalah suatu perjuangan. Tidak ada dalam hidup ini yang bisa kita dapat tanpa usaha. Bahkan seorang bayi yang helpless pun harus berjuang agar dia bisa bertahan hidup. Berjuang dengan belajar bagaimana cara menyusui. Disana ada tangisan, disana ada peluh. Baik dari si bayi maupun dari si ibu. Semua berjuang. Disana juga ada letih, tapi juga ada bahagia.

Waktu yang selalu berjalan ke depan bagi setiap manusia semakin memperkuat bahwa, tidak ada dalam hidup ini yang kita bisa dapatkan tanpa perjuangan. Tapi kemudian perjuangan ini seperti menjadi suatu proses tawar menawar. Untuk sesuatu yang baik ada harga perjuangan yang harus dibayar. Dan harga perjuangan ini semakin mahal untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik. Demikian juga sebaliknya, untuk sesuatu yang biasa saja, harga perjuangan itu bisa saja murah.

Sehingga pertanyaannya sekarang, seberapa keras kita harus berjuang? Atau jauh sebelum itu ditanyakan, perlukah kita bertanya, apa yang kita inginkan? Lalu apa perlu kita bertanya, maukah kita menukar darah dan air mata untuk yang kita inginkan?

Seberapa Keras Kita Berjuang?

Ilmu Yang Paling Tinggi

Beberapa pengalaman hidup belakangan ini membuat saya menyadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu sabar. Bagaimana tidak mungkin. Emosi adalah hal paling indah yang ada di manusia. Emosi mendorong manusia mencipta seni. Dan emosi juga yang mendorong manusia merugikan sesamanya. Dan dengan ilmu sabar, kita mencoba mengontrol tempo emosi.

Beberapa kali saya membaca ulang paragraf diatas, mencoba melanjutkan tulisan ini tanpa merubahnya menjadi seperti bahan ceramah standar di bulan puasa. Sepertinya memang sulit. Emosi mungkin. Hahaha. Jadi lanjut aja ke paragraf ke tiga.

Di paragraf ketiga ini, saya simpulkan bahwa, paragraf kedua adalah tidak berguna. Tidak ada kaitan antara paragraf ke satu dan kedua, kemudian dilanjut dengan paragraf ketiga semakin menunjukkan tulisan ini memang tidak berguna. Sampai dengan kalimat ketiga di paragraf ketiga, tidak ada isi dari apa yang saya coba sampaikan. Padahal saya sudah coba berlatih sabar untuk tidak terburu-buru dan emosional ketika menulis ini. Karena ide tulisan ini sudah ada dari hari Senin awal minggu lalu. Saya sabar sambil menganalisa keadaan, dan mencoba mengembangkan ide tersebut. Okelah, saya bagi kali ini emosi yang menang.

Supaya Anda tidak merasa sia-sia membaca, saya sarikan saja apa yang saya dapat dari tulisan ini, menulis membantu dalam mengontrol tempo emosi. Menulis membantu mendalami ilmu yang paling tinggi. Ilmu sabar.

Sabtu pagi, setelah seminggu yang penuh pembelajaran

10 Hari Menulis, ke 5.

Ilmu Yang Paling Tinggi