Ilmu Yang Paling Tinggi

Beberapa pengalaman hidup belakangan ini membuat saya menyadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu sabar. Bagaimana tidak mungkin. Emosi adalah hal paling indah yang ada di manusia. Emosi mendorong manusia mencipta seni. Dan emosi juga yang mendorong manusia merugikan sesamanya. Dan dengan ilmu sabar, kita mencoba mengontrol tempo emosi.

Beberapa kali saya membaca ulang paragraf diatas, mencoba melanjutkan tulisan ini tanpa merubahnya menjadi seperti bahan ceramah standar di bulan puasa. Sepertinya memang sulit. Emosi mungkin. Hahaha. Jadi lanjut aja ke paragraf ke tiga.

Di paragraf ketiga ini, saya simpulkan bahwa, paragraf kedua adalah tidak berguna. Tidak ada kaitan antara paragraf ke satu dan kedua, kemudian dilanjut dengan paragraf ketiga semakin menunjukkan tulisan ini memang tidak berguna. Sampai dengan kalimat ketiga di paragraf ketiga, tidak ada isi dari apa yang saya coba sampaikan. Padahal saya sudah coba berlatih sabar untuk tidak terburu-buru dan emosional ketika menulis ini. Karena ide tulisan ini sudah ada dari hari Senin awal minggu lalu. Saya sabar sambil menganalisa keadaan, dan mencoba mengembangkan ide tersebut. Okelah, saya bagi kali ini emosi yang menang.

Supaya Anda tidak merasa sia-sia membaca, saya sarikan saja apa yang saya dapat dari tulisan ini, menulis membantu dalam mengontrol tempo emosi. Menulis membantu mendalami ilmu yang paling tinggi. Ilmu sabar.

Sabtu pagi, setelah seminggu yang penuh pembelajaran

10 Hari Menulis, ke 5.

Ilmu Yang Paling Tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s