Hakim

Saya. Hakim. Bukan seseorang yang Anda temui di pengadilan. Orang tua saya menamakan saya demikian, agar katanya saya menjadi orang yang adil. Orang yang tegar dalam kebenaran. Orang yang jujur. Di penghujung dekade ke tiga hidup saya, saya yakin saya bukan jujur, dan saya bukan tegar dalam kebenaran. Terlalu polos, atau naif. Kalau tidak mau dibilang bodoh. Salah bukan saya yang buat. Tapi begitu indah melihat dunia dari seorang mata anak-anak. Ya betul, saya tidak mau tumbuh menjadi dewasa. Mata anak-anak adalah mata yang paling murni. Bukan mata yang haus dan rakus akan dunia.

Orang bilang saya aneh. Saya bilang orang lain aneh. Tidak ketemu dimana seharusnya bertemu. Tidak perlu disimpulkan, karena memang aneh menarik kesimpulan kalau memang tidak ada yang titik temu untuk simpul tadi. Mari bicara dengan saya. Saya senang cerita. Saya senang hal yang fiksi. Kita bisa bicara banyak hal. Bicara tanpa ujung, atau dengan ujung. Boleh juga bicara dari awal. Tentang deret peristiwa. Deret yang berawal juga berujung. Awalnya sudah terjadi, ujungnya belum ditulis.

Dalam wilayah hati, peristiwa adalah muasal rasa hati. Katakanlah Anda berada dalam peristiwa riang, maka rasa hati bisa menjadi manis. Manis yang tidak terkait dengan momentum. Karena momentum tidak dapat dibuat. Percaya atau tidak, Anda duduk atau berdiri ketika membaca ini, tidak disebabkan oleh satu hal. Mungkin ini hanya deretan peristiwa.

Peristiwa tidak dapat ditangkap. Peristiwa tidak dapat digambar. Peristiwa tidak dapat difoto. Dia hanya bisa dijalani, dialami. Seperti halnya saat saya bertemu dia. Sekian kerasnya mencoba agar peristiwa yang sama diulang, digambar, dilihat kembali. Nilai dari deret peristiwa tadi tidaklah sama. Mencoba mencerna urutan sebelum peristiwa. Bagaimana memulai dari menggambar garis lekuk pipinya, mencoba menggurat cara dia menggerak bibir untuk membuka kata. Lalu mencoba menerangkan kembali kenapa saya diam, tanpa ada balas jawab atas apa yang dia yang tanya.

Manusia bisa bicara banyak, tapi entah mungkin kepada makhluk itu, saya tidak mampu bicara banyak. Bukan karena ingin efektif, apalagi efisien. Dalam suatu gerak, mungkin ada gaya lain yang menahan untuk tidak terus maju. Untuk tidak terus bicara. Atau memang tidak dapat bicara. Kemampuan bicara yang dimiliki sejak dulu hilang. Dalam keragaman interpretasi atas peristiwa mata saya yang bertemu mata dia.

Maka memang ini adalah deretan peristiwa, dari sekian deretan lain. Dengan suatu momentum yang tidak saya buat-buat. Ini adalah kehendak Dia yang lebih berkuasa. Istilahnya sebuah karya, maka pertemuan ini adalah awal dari karya yang agung. Abadi dalam rasa bagi saya yang menulis. Ini memang hanya deretan peristiwa. Dengan saya sebagai subjek, juga dia sebagai subjek. Langit sore dengan udara yang sedikit panas di pendopo gedung usang itu sebagai latar. Adalah awal.

Ini adalah awal, dari kerinduan untuk bertemu. Di ujung laut kalau memang ada ujungnya. Bercerita tentang malaikat. Ini bukan kisah saya, ini kisah dia.

 

Hakim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s