Gabriel

Namanya Gabriel, Jibril kalau kata orang Indonesia mah. Sudah barang tentu nama ini pasti mengundang banyak tanya. Dan tentulah seperti kebanyakan sifat buruk manusia lainnya, setiap orang yang mendengar namanya, atau sampai melihat orangnya, pasti sudah mempunyai prasangka. Entah itu buruk, atau itu baik.

Pendiam, tidak seperti kebanyakan wanita lain di sekelilingnya. Tuh kan, pasti ada prasangka yang menganggap Ia adalah seorang pria. Apalagi kalau sampai orang tahu dia adalah ahli di bidang Geologi. True rock scientist. Seandainya Anda pernah bepergian bersama dia, katakanlah menyusuri jalan Jakarta-Bandung, tidak lewat Cipularang. Tapi jalan menyusuri Padalarang, terus ke arah Citatah, melihat singkapan batu kapur, atau entah batuan-batuan apalagi. Dia akan bercerita seperti anak kecil yang baru saja menjalani hari pertamanya di sekolah. Dan seandainya saja, Anda menemani Ia berjalan menyusuri Bandung, dia mungkin akan bercerita banyak bagaimana kisah mangkok Bandung ini. Bedanya anak kecil yang baru pulang dari hari pertamanya di sekolah bercerita dengan suka cita, Gabriel bercerita dengan antusias laiknya mahasiswa doktorat mempertahankan disertasinya.

Sekeras-kerasnya batu, perlahan-lahan air yang mengikisnya pun akan menembusnya. Sekeras-kerasnya hati, perlahan-lahan pun akan luluh juga. Luluh, dalam artian sedih. Atau luluh dalam artian cinta. Semua bisa jadi. Pendiam, mungkin karena sedih. Atau mungkinkah ada perasaan lain yang membuatnya diam. Kekaguman. Atau sakit jiwa. Sukar menggambarkannya. Tapi dari jauh, sorot matanya seperti seseorang yang sedang berdiri di tepian dermaga, memandang jauh ke tengah laut. Sorot mata yang menunggu.

Kaki boleh memijak tanah yang berbeda, tetapi mata pasti memandang langit yang sama. Boleh jadi beda. Tetapi langit itu tak berujung, Anda yang memandang terus ke Utara, katakanlah dengan kekuatan super Anda terus memandang ke arah Utara, di ujungnya Anda akan memandang kembali posisi Anda. Betul ini adalah metafor. Tapi, ketika jauh melihat di dalam hati. Ada kesamaan, antara pandangan mata dan pandangan hati ketika melihat langit. Gelap yang terasa ketika melihat langit tanpa bintang. Seperti halnya melihat hati yang jauh dan kosong ketika tidak ada yang mengisi. Kemudian terasa terang langit ketika bulan memantulkan cahaya matahari, seperti halnya melihat hati ketika merasa senang ada yang mengisi.

Oh ya, perumpamaan memandang langit ini cuma terjadi ketika malam. Ketika siang, tidur. Bukan sebab kita ini makhluk malam, nokturnal. Sebab cahaya siang, boleh Anda coba memelototinya. Pasti sakit. Cuma malam yang Anda pandangi tanpa sakit. Kegelapan dan kesunyian tidak membuat Anda sakit. Tapi semua yang terang dan berisik membuat Anda jengah. Ketika siang, tidurlah. Istirahatkan imajinasi. Simpan untuk malam nanti.

Dia, Gabriel. Seorang yang ulung membaca sejarah bumi. Saya sudah bilang tadi, dia true rock scientist. Tapi dia tidak ulung membaca sejarah hati. Mungkin karena saya sama seperti dia. Sama-sama aneh. Terkadang kami bicara panjang. Bicara sejarah. Panjang tentunya. Karena namanya sejarah. Dia bicara sejarah bumi, saya bicara sejarah angka. Tidak nyambung. Sudah pasti. Tapi dia nyaman bicara dengan saya. Saya pun, kadang-kadang nyaman. Sama-sama aneh, tapi kadar aneh saya sedikit berbeda.

Istilahnya sebuah angka, bicara Gabriel, seperti sebuah deret bilangan. Yang hilang di tengahnya. Saya percaya dia berbohong. Tapi saya tidak ingin  bicara itu. Apalagi bicara itu kepadanya. Katakanlah Ia juga seperti angka yang lain, Ia seperti angka ganjil. Yang menunggu satu angka lagi untuk menjadi genap. Genap seperti halnya gelas yang terisi penuh. Ganjil seperti halnya gelas yang terisi setengah. Ia harus diisi dengan anggur lagi, agar menjadi gelas yang penuh dengan anggur. Tidak bisa diisi dengan air. Hilang sudah kemurniannya.

Ini cerita tentang Gabriel, bukan tentang saya. Tentang kesedihan Gabriel. Tentang cinta Gabriel. Nama seperti malailkat. Tapi Ia manusia.

Gabriel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s