Harus Pergi!

Pagi teman,

Hidup telah menjadi suatu rutinitas yg baku, bangun di pagi hari, bersiap untuk menempuh 1-2 jam kemacetan, kemudian cek email, menunggu ‘complaint’ dari bos, dari klien, dari semuanya. Bercanda dengan teman sejawat, makan siang, kerja lagi, ngantuk lagi, tidur lagi, pulang lagi, macet lagi, dan begitu selanjutnya. Saya tahu saya punya banyak pilihan, dan bahkan pilihan untuk tidak memilih. Saya tahu saya tidak berhak memberikan alasan apapun untuk sebenarnya melawan rutinitas tersebut. Tetapi hidup adalah suatu ujian pilihan berganda, yg terkadang kita tidak bisa memilih sesuatu dari jawaban yg disediakan. Meski jawaban tersebut salah semua. Terlalu muda 10 tahun bagi saya untuk bicara hidup. Usia saya 28 tahun, tanpa ada sesuatu yg menjadi ‘impact’ bagi masyarakat sekitar. Perjalanan selama ini hanyalah suatu onani intelektualisme. Menikmati dunia yg fana, dunia yg apabila tidak sesuai dengan imajinasi pribadi, adalah dunia yg ditolak.

Beberapa buku yg saya baca belakangan ini, buku lama yg pernah saya baca, tapi saya niatkan untuk baca kembali. Mengajarkan kepada saya bahwa, hidup adalah suatu petualangan. Bagaimana seharusnya kamu tidak diam di satu tempat, pergilah, berpetualangan lah. Kemudian menikmati kenangan dari perjalanan yg dilakukannya.

Buku kedua, yg dulu saya baca ketika masih polos, sebuah catatan harian dari cendikiawan Indonesia di tahun 60an, Soe Hok Gie. Ketika kini saya baca, saya mulai memahami sedikit demi sedikit, alasan mengapa ia mengatakan, “Nasib baik adalah tidak pernah dilahirkan, kemudian mati muda”. Betul. Jangan pernah mau dilahirkan atau bermimpi untuk hidup sampai tua, karena jika engkau hanya menjalani hidup tanpa berani menyuarakan kebeneran, isi hati, dan sebagainya, kamu hanya hidup sia-sia. Pada akhirnya bahkan tukang peti mati dan pilot yg menerbangkan jenazah Soe Hok Gie, mengenal siapa Soe Hok Gie itu, dari apa yg ia tulis dan suarakan.

Pertanyaan buat diri kita dan saya pribadi sekarang, apa yang telah saya lakukan? Saya hanya tahu satu hal, saya harus pergi. Entah kapan.

Harus Pergi!

One thought on “Harus Pergi!

  1. Diah Mitasari (Mita) says:

    Wah….udah jarang nongol di WP buat nulis, sekali nulis kok bicaranya pergi. Mas lagi sakit keras ya ? Jangan bilang pergi ke alam lain deh. Jadi seyem….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s