Sesungguhnya Manusia Itu Kecil

Sesungguhnya manusia itu kecil, dibanding alam semesta. Bahkan satu manusia dengan manusia lainnya semuanya relatif kecil. Ketika memandang beban yang kita pikul sudah paling berat sedunia, ketika kita merasa cobaan Tuhan kepada kita sudah yang paling susah, ketika kita merasa bahwa tidak ada lagi yang mampu kita lakukan, kenyataannya, di luar sana banyak yang lebih susah dari kita. Tak usah kita berpaling jauh ke Palestina, atau Afrika untuk melihat kesusahan yang nyata. Mungkin tengok tetangga kita sendiri di sebelah rumah, atau semua yang kita lihat sehari-hari dalam perjalanan ke tempat aktifitas kita.

Tak pernah saya bayangkan pagi hari saya dimulai dengan mencari sarapan kemudian bertemu dengan pasien anak-anak yang didadanya jelas terlihat bekas potongan, tanda habis operasi jantung. Tidak satu dua anak-anak yang saya lihat seperti itu, cukup banyak. Kemudian juga tak pernah saya bayangkan ketika mengobrol di ruang tunggu untuk bersiap memarahi sekretaris seorang dokter yang salah mengatur jadwal operasi, dengan amarah yang sudah berubun di kepala dan segenap argumen untuk memaki sekretaris tadi, kemudian tiba-tiba ibu disebelah yang sama-sama menunggu sekretaris tadi menceritakan ujian hidupnya. Ketika diberi ujian oleh Tuhan, sebuah titipan bayi yang lahir jauh dari normal. Satu dua detik yang berlalu setelah mendengar cerita Ibu tadi, tiba-tiba menampar diri saya, bahwa masalah salah jadwal operasi tadi hanyalah masalah kecil, dibanding masalah Ibu tadi. Tak pantas saya marah atas ujian itu.

Tiga hari yang saya lalui belakangan ini mengajarkan pada saya, bahwa tak pantas mengepal tangan pada Penguasa Langit, mengeluh atas beratnya hari-hari yang dilalui. Mengeluh beban yang diberikan kepada kita sepertinya adalah beran terberat di dunia. Beban yang kita pegang sekarang lebih kecil kawan dibanding mereka yang bahkan kamu tidak tahu namanya. Mereka bahkan berperang melawan beban itu tanpa modal yang saya miliki sekarang. Percayalah, Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dalam beratnya masa-masa ini.

Tuhanku, Engkau adalah penguasa semesta alam, tidak ada satupun denyut nadi di dunia ini yang bergerak tanpa izin-Mu. Tidak ada satupun mata yang sanggup membuka esok pagi tanpa kuasa-Mu. Tidak ada satu beban beratpun di dunia ini yang tidak dapat Engkau jadikan itu ringan bagi hamba-Mu. Sungguh hamba-Mu ini dengan kenistaaan dan kesia-siaan hidup yang telah dijalani sejauh ini, tidak tahu menghadap langit mana lagi, selain langit-Mu, Ya Rabb. Kuasa-Mu atas kegemilangan hidup hamba selama ini, bisa Engkau hilangkan dalam sekelabat mata. Mata, tangan, kaki, jantung, otak yang hamba miliki saat ini adalah pemberian-Mu yang paling berharga, izinkan mereka bersatu menjalani ujian-ujian yang datang. Tunjukilah kami jalan yang lurus, bukan jalan yang Engkau murkai, tetapi jalan yang Engkau beri nikmat kepada mereka yang telah mendahului kami.

Amin Ya Rabbal Alamin

Sesungguhnya Manusia Itu Kecil

One thought on “Sesungguhnya Manusia Itu Kecil

  1. Subhanalloh. Innalloha ma’a shobirin, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar. Saya suka tulisannya, TFS. Suka juga dg tampilan blognya yang simple dan cantik dg bunganya :)….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s