Dari Ruang Tunggu Rumah Sakit

Baru Sabtu kemarin lusa, kali pertama saya mengunjungi rumah sakit khusus jantung Harapan Kita di bilangan Slipi sana. Meski dari dulu saya langganan keluar masuk internist, bahkan sampai beberapa tahun ke belakang, saya masih sering bolak balik rumah sakit, kali ini sih untuk mengoptimalkan asuransi yang dikasih oleh kantor. Hehehe, tentunya juga untuk menjaga kesehatan saya. Sepertinya memang saya punya banyak hubungan dengan institusi yang namanya rumah sakit, dari mulai suka dengan band yang namanya rumahsakit dulu, ples juga pakai nickname rumahsakit jaman di mIRC dulu. Tapi, seiring dengan bertambahnya umur dan mendekatnya kematian, nuansa dan cara pandang saya dengan rumah sakit jadi berbeda.

Kebetulan dokter yang ingin dikunjungi Sabtu kemarin adalah pediatric cardiologist, alias dokter spesialis jantung untuk anak-anak. Dan pastinya memang 90% pasien dokter tersebut adalah dokter anak-anak, kecuali beberapa orang pasien dewasa. Entah bagaimana seharusnya saya menulis ini, karena masih membekas kesedihan yang saya rasa. Sedih ketika melihat beberapa pasien yang masih bayi, sudah ditusuk infus di tangan kanan-kirinya. Ada seorang pasien bayi yang masih dalam inkubator. Berkali-kali ketika melihat hal itu, hati saya berdegup kencang dan mencoba menenangkan perasaan saya. Berdoa bagi kesembuhan bayi itu, dan memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa, semoga orang tuanya diberikan kekuatan atas cobaan yang ada.

Ada seorang pasien anak-anak yang datang dari jauh, Pekanbaru, orang tuanya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada hal-hal yang serius dari anaknya. Sepanjang saya melihat anak itu, bawannya ceria saja. Bahkan ketika dia di USG jantung, meminta orang tuanya untuk difoto. Sepanjang menunggunya pun ia tetap ceria, mungkin sekalian jalan-jalan ke Jakarta. Lain cerita anak lain yang mungkin harus menunggu lama sehingga gelisah, marah-marah karena kebosanan mungkin. Meski saya sendiri bosan, karena harus menunggu lama dari satu diagnosa ke diagnosa lainnya, saya merasa mendapatkan pelajaran berharga dari duduk di ruang tunggu rumah sakit itu.

Kalau orang tua kita suka bercanda, mereka suka bilang, “Ehm, ni anak, kalo tau gedenya bakal badung kayak gini, gw pites aja dulu waktu kecil!”. Memang betul, sepertinya kesehatan dan tiap tarikan nafas kita yang sehat saat ini adalah hutang bagi mereka yang tergolek sakit tak berdaya. Hutang bahwa, kita harus memberikan makna pada kesehatan dan kehidupan yang mereka tidak miliki. Kalau kita menyia-nyiakannya, apa tidak lebih baik kesempatan itu diberikan bagi mereka!

Dari ruang tunggu rumah sakit itu, semoga saya belajar untuk menjadi manusia yang memberi makna yang baik bagi hidup yang diberikan kepada saya.

Dari Ruang Tunggu Rumah Sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s