Menulis Keragaman

Gak kebayang.

Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran saya, ketika saya selesai menulis sesuatu dan membacanya kembali. Beginikah para penulis besar menikmati bagaimana merangkai ragam huruf menjadi suatu kata, lalu digabungkan menjadi kalimat, kemudian membentuk suatu paragraf. Yang mana keragaman huruf tadi menjadi paduan paragraf yang menunjukkan kekuatan ide. Tanpa batas. Hanya langit yang menjadi batas pemikiran ketika kita menulis. Menikmati fantasi pemikiran. Merayakan keberagaman huruf yang bersatu menjadi ide yang mencerahkan.

Sayangnya, saya tidak memiliki kemampuan melukis. Kalau iya, mungkin, saya bisa merasakan perasaan semangat yang begolak, ketika mampu merangkai pola warna, yang lebih ribuan lagi ragamnya. Merasakan bagaimana ekstasi yang ada dalam dunia ide Mondrian, ketika pelukis berkebangsaan Belanda ini dengan luwesnya merangkai ragam kubistik dengan hanya 3 ragam warna primer. Keberhasilan Ia merangkai ragam warna yang sederhana, memberikan kita kenikmatan tersendiri dalam menikmati karya seni. Kenikmatan seperti kita telah merayakan kemenangan. Kenikmatan merayakan keberagaman warna dalam suatu karya besar.

Pun mungkin begitu juga rasanya, gejolak ide, gejolak pemikiran, gejolak semangat yang berkobar dalam barisan ragam pemuda Indonesia di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106 dulu, ketika Wage Rudolf Supratman menggesek biola yang memperdengarkan Indonesia Raya untuk kali pertamanya. Dengan ragam latar belakang mereka, mereka rayakan keberagaman itu dalam satu ide. Ide persatuan, ide kebangsaan, ide kemerdekaan. Merayakan keragaman kultural dalam bentuk satu Bangsa. Yang akhirnya mengantar Bangsa ini ke pintu kemerdekaannya.

Seperti itukah rasanya merayakan keragaman? Diawali dengan merangkai semua yang berbeda, dipersatukan menjadi satu kesatuan ide, lalu bergerak menggebrak mencerahkan diri kita dan orang-orang disekitar kita? Mungkin iya, bagi saya, blogger amatir, merangkai huruf menjadi satu posting, kemudian membacanya kembali setelah beberapa waktu yang lama adalah rasa tersendiri. Saya merayakan keberagaman, dari huruf yang saya rangkai menjadi satu ide yang semoga menjadi pelajaran yang mencerahkan untuk saya di masa yang akan datang. Apalagi kalau banyak yang komen *halah*.

Gak kebayang.

Menulis Keragaman

One thought on “Menulis Keragaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s