Teman Baik (Bagian 1)

Berapa banyak undangan buka bareng yang Anda terima bulan ini? Oke, mari kita hitung, pertama dari rekan kantor satu divisi, kedua rekan kantor antar-divisi, ketiga buka bersama massal satu kantor yang diadakan oleh manajemen pusat. Kemudian mungkin rekan kuliah, lalu teman-teman SMA, lalu kemudian teman-teman SMP, mungkin sekalian teman-teman SD. Kira-kira mungkin minimal ada sekitar 4 atau 5 undangan buka bersama. Itulah yang orang bilang barokah Romadhon, jadi ajang silaturahmi, meski itu jadi alasan untuk tidak ikut taraweh bareng🙂 Saya termasuk beruntung, karena masih selalu berada dalam top-must-come-list undangan yang diajak untuk buka bareng. Bukan apa-apa, karena memang selalu kebagian yang disuruh untuk ngurusin 😦 Dan selalu menjadi bagian dari paket standar orang-orang yang dateng buka bareng. Tak apalah. Mengingat, sedikit kerepotan yang harus disiapkan untuk mengurus buka bareng menjadi tidak berarti kita bertemu teman-teman lama.

Ya, teman lama. Teman yang sudah lama kita kenal, dan masih tetap keep in touch. Teman lama yang selalu menjalin komunikasi dengan baik, sehingga ter-upgrade menjadi teman baik. Seperti teman-teman alumni SMP 216, Salemba Raya, Jakarta. Bulan ini, kami sudah 2 kali mengadakan acara buka bareng. Meski yang datang juga itu-itu saja dari tahun ke tahun, dan bahan obrolan nostalgianya juga itu-itu aja dari tahun ke tahun. Tetapi seperti tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Dalam bahasa saya, dan mungkin Anda juga, berkumpul bersama teman masa lalu, seperti menjadi muda kembali🙂 Seperti hidup di zaman itu lagi, mengingat mimpi yang indah, sebelum terbentur realita kehidupan, bahwa ada cicilan hutang yang menghantui kita tiap bulannya.

Saya lulus dari SMP 216, tahun 1998, di saat suasana Jakarta cukup mencekam saat itu. Terakhir saya dari kelas III-3, dengan komposisi teman sekelas yang tidak jauh berbeda dari ketika saya kelas I (di kelas I-10), dan di kelas II (kelas II-1). Mungkin akibat komposisi yang tidak pernah berubah selama 3 tahun masa kenakalan di SMP, sehingga hubungan kami sudah terpupuk erat sejak awal. Saya merasa bersyukur, setiap tahun kami hampir tidak pernah absen mengadakan acara buka bareng. Pasti selalu ada acara kumpul-kumpul, meski sekali lagi saya beritahukan, yang datang dia lagi-dia lagi. Dulu, mereka-mereka, dan saya juga tentunya, hanya anak-anak polos, yang tiap Sabtu belagak ngeceng pake celana Alien Workshop di mall Kelapa Gading, sambil nukerin sisa duit jajannya buat main di Timezone. Sekarang, semua telah menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

Kalau saya boleh menganalisa diri saya sendiri, saya percaya masa kritis pengembangan pribadi seseorang itu adalah saat SMP, usia 13-15 tahun. Dimana ini adalah usia pertama kali kita mengenal kebebasan. Rentang usia dimana kita menentukan mau menjadi pribadi seperti apa kita ini di masa mendatang? Dimana kita melihat berbagai macam role model untuk masa depan yang akan kita jalani. Sehingga, sebagus apapun kita dididik dalam lingkungan keluarga inti, ayah-ibu-kakak-adik, tetap saja lingkungan ketika kita SMP yang akan dominan membentuk kepribadian kita. Saya merasa beruntung bisa lulus dengan NEM yang cukup baik ketika SD, sehingga bisa masuk ke kelas yang isinya anak-anak pinter di kelas I SMP, yang saat itu SMP saya terbilang cukup bagus pamornya di Jakarta Pusat. Sehingga lingkungan saya cukup terjaga kualitasnya. Tetap saja, nobody’s perfect, though we were the smartest class in the school, we also did evil things. Tetapi dalam koridor yang wajar. Ya, keadaan ini bisa bervariasi tiap orang.

Sebagai penutup tentang posting Teman Baik edisi pertama ini, saya sarikan dalam kalimat-kalimat berikut.

Sekarang saya tahu, saya hampir di tiba di musim panen atas silaturahmi yang dipupuk baik selama ini. Semoga saya pun bisa menjadi teman baik bagi kalian, seperti kalian telah menjadi teman baik buat saya. Semoga saya pun bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian, seperti halnya, kalian pun sangat berbaik hati membagi manfaat yang kalian punya. Terkadang, kita tidak percaya omongan Ustadz di masjid dulu tentang indahnya silaturahmi. Sampai satu saat, kita temui manfaatnya sendiri.

Saya coba berkomitmen untuk menulis edisi kedua, tentang teman semasa SMA, semasa kuliah, semasa kerja, dan lain sebagainya. Karena, atas jasa kalianlah, setidaknya saya tidak menjadi sampah masyarakat saat ini.

Teman Baik (Bagian 1)

5 thoughts on “Teman Baik (Bagian 1)

    1. betul ba, sayangnya lo masuk sekolah yang sekuler, kuliah juga sekuler, jadinya kek skrg.

      gw juga gitu, masuk sma, berubah jadi sosialis, masuk kuliah, berubah jadi materialis dan sekuler. jadinya kek skrg ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s