Masa Depan?

Keren banget judulnya. Meski paragraf selanjutnya tidak sekeren judul diatas🙂

Pertama-tama, ada dua hal yang sangat tidak bisa kita hindari, pertama adalah menjadi tua, yang kedua adalah membayar pajak. Lupakan yang kedua, karena bagaimanapun juga, ranah pajak-mempajak adalah ranah yang ‘sensitif’ untuk mengundang kemarahan orang🙂 Kita lihat lagi poin yang pertama, kita tidak bisa menghindari lagi untuk menjadi tua. Seiring umur bertambah, bisa jadi kita akan hidup di masa depan, karena memang waktu tidak pernah berjalan ke belakang. Tetapi apakah memang ketika kita tua, kita hidup di masa depan?

Belum Tentu. Kalau kita bilang, kita hidup di masa depan, maka seharusnya kita hidup di masa yang lebih baik dari yang sekarang. Karena secara tidak langsung kata “depan” memiliki makna “lebih” dari posisi saat ini. Jadi bagaimana dengan masa depan kita?

Saya senang sekali dengan kata stokastik🙂 Kemarin dalam diskusi panjang dengan ‘teman’ saya. Kita berbicara masalah random time series. Bahwa perilaku time-series ini tidak bisa diprediksi dengan persamaan-persamaan yang berpola biasa. Ia bersifat acak. Akan tetapi, perilaku dan karakteristiknya bisa dilihat dari sifat statistiknya, seperti rata-rata, standar deviasi, dan mungkin probability density function. Juga behaviournya di series selanjutnya, bisa dilihat dari karakteristk itu tadi. *ooh, I love to use high tech jargon, makes me looks smart isn’t it🙂 – meski pada salah semua maknanya* Masa depan adalah random time series. Semua orang juga tahu bahwa masa depan itu tidak dapat diprediksi, dan bersifat acak. Sehingga, kurang lebih masa depan dapat dianalogikan dengan random time series itu tadi, kita bisa lihat kondisi saat ini, bagaimana rata-ratanya, standar deviasinya, dan mungkin fungsi kebolehjadian untuk setiap kondisi saat ini. Dari hal tersebut, kita tahu karakteristik saat ini, dan mungkin bagaimana memprediksikannya untuk masa depan.

Jadi pesan saya terhadap diri saya, di seminggu terakhir romadhon ini. Lihat kembali diri kita, rata-rata kejadiannya seperti apa, deviasi yang ada dari rata-rata itu seperti apa, apakah kurvanya lebih di arah positif, atau justru skewness lebih ke arah negatif, bagaimana peluang kebolehjadian sukses dan kebolehjadian gagal kita. Bagaimana pun juga, Markov mungkin benar, masa depan yang acak itu bergantung pada kejadian saat ini. Kehidupan ini adalah rantai waktu. Apakah kita memang hidup di masa depan, dalam arti yang sebenarnya, atau kita hanya menjadi tua dan menjadi manusia yang hanya mengisi babak drama, dimana orang lain yang menjadi aktor utamanya. Atau kita menjadi orang yang merebut masa depan itu.

Happy Eid Mubarrak.
Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik di masa mendatang.

Masa Depan?

3 thoughts on “Masa Depan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s