Entah. Mungkin Lebih Baik Mati. (2)

Kini aku sadar, aku tak lebih dari seorang pengecut. Melihat hidup dari sisi terangnya saja. Ketika gelap, aku menyelinap kepada mereka yang membawa lampu, menikam mereka dengan belati tajam. Kemudian berpura-pura tak pernah terjadi apa-apa. Hingga menunggu keadaan menjadi gelap gulita, lalu muncul sebagai pahlawan. Entah kesiangan atau kepagian.

Tak lebih diriku dari seorang hipokrit. Bermuka dua. Satu baik kepada kalian yang dalam lingkaran yang menguntukanku. Satu baik pada lingkaran lain yang memusuhi lingkaran pertama. Pilih-memilih mereka yang memberikan kenyamanan. Benci-membenci mereka yang tidak menguntungkan posisiku.

Kenapa aku harus hidup? Apakah kebobrokanku dapat menjadi hal yang baik bagi kalian. Apakah aku akan dikenang sebagai pelajaran berharga bagi kalian. Atau aku adalah bangkai yang tak akan pernah ditulis lagi dalam sejarah apapun.

entahlah, memang mungkin lebih baik mati.

Entah. Mungkin Lebih Baik Mati. (2)

4 thoughts on “Entah. Mungkin Lebih Baik Mati. (2)

  1. Baru sadar sekarang lo? Untung nyadar hehe..kalo lo nulis2 beginian..bikin gw jengah dan mikir ttg kehidupan…ah mikir mulu..saatnya beraksi?! hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s