Entah. Mungkin lebih baik mati.

Hidup itu tidak pernah adil dan ideal. Bukan hidupnya yang salah. Tapi mereka yang menjalani hidup itu yang membuat kehidupan jadi tidak pernah adil dan tidak pernah ideal. Manusia yang paling berani adalah bukan manusia yang tidak takut mati, tapi mereka yang mau menjalani hidup bagaimanapun pahitnya itu. Mati dalam dimensi keseharian pada kenyataannya adalah pintu untuk lari dari masalah yang ada.

Sayangnya, kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Tapi bukan berarti kita meminta pertanggung jawaban pada mereka yang lebih dulu ada daripada kita.

Lalu bagaimana bila ketidak adilan menghampiri kita? Lalu bagaimana bila kenyataan pahitnya hidup ada dalam setiap tolehan mata kita? Lalu bagaimana bila kamu sendiri berada dalam ketidak adilan, tanpa ada orang lainnya yang menghampiri kamu.

Apakah kamu mengutuk kehidupan dan masa lalu? Atau kamu belajar memandang ketidak adilan sebagai pelajaran bagi dirimu dan orang lain. Dan kamu mengorbankan jiwa dan perasaanmu untuk itu.

Sayangnya hidup dengan kepahitannya adalah murah harganya. Setiap saat kamu bisa beli dengan mudah. Sementara hidup dengan kebahagiannya adalah barang mahal yang mungkin ditukar dengan seluruh jiwa dan raga kamu.Sayangnya bumi berputar dengan dendam akan ketidak adilan yang memutar porosnya. Dan detik-detik yang berlalu adalah sayatan pada semua urat nadi yang mengalirkan darahmu. Setiap dendam atas ketidak adilan mencekik otakmu untuk berpikir jernih.

Sayangnya hidup adil bukan pilihan. Dan hidup dengan kepahitan adalah sesuatu yang nyata dan hakiki bagi dirimu. Hidup dengan ketidak adlian adalah makan sehari-harimu.

Entah. Apakah daripada mati, atau hidup sebagai daging yang mendendam, lebih baik berubah menjadi malaikat. Dan memaafkan mereka yang mentidak adili dirimu.
Entah. Kita bukan malaikat.
Entah. Mungkin lebih baik mati.

Entah. Mungkin lebih baik mati.

5 thoughts on “Entah. Mungkin lebih baik mati.

  1. jaaahh.. stress ente ? hidup pilihan gan.. kalo mau pindah kantor mah pindah ajah, ga usah mikirin yang 500 lembar itu hihihi
    ato kawin sono, yang halal tapi😛

  2. “Sayangnya bumi berputar dengan dendam akan ketidak adilan yang memutar porosnya.” Kebaikan juga punya poros, gabung kesitu aja.

    Lu, lo sudah menyarankan hal yang….. wakakakakakakakaka… I miss being single, but love to be a proud father of a son😀

    emang nye, bener dah, sumpah, kawin itu menyempurnakan idup. Jangan cuma pikirin kemungkinan terburuk aja, pikirin juga BlackSwan positifnya. Kayak gambling booooooooo :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s