Bukankah itu sebuah ironi?

Sesuai dengan tanggal hari ini, hari Kebangkitan Nasional Indonesia, 20 Mei 1998, tepat 100 tahun setelah berdirinya Budi Utomo. Sebuah organisasi kerakyatan (CMIIW). Dari sinilah berawal kebangkitan Indonesia. Lalu setelah 100 tahun bangkit, 63 tahun merdeka, 10 tahun reformasi, dan entah berapa macam angka sakti lagi, yang pasti tidak pernah ada yang bertanya berapa angka yang ada di kantong kita? Berapa sisa hutang yang masih kita punya?

Entah, apa yang dimaksud dengan bangkit, ketika kita rakyat Indonesia merayakannya dengan hura-hura. Sementara di pojok Jakarta, seorang guru menjadi seorang pemulung (klik disini http://www.kickandy.com/corner.asp?page=6), guru yang membuat kita menjadi pintar terbentur kenyataan hidup bahwa Ia harus memulung sampah untuk menambah penghasilannya. Sementara di etalase kemewahan Jakarta, para ABG petantang-petenteng dengan HP seri terbaru, dan kartu kredit bapaknya, mencoba mencari eksistensi diri yang tertutup gengsi dan kebodohan otaknya.

Bagaimana menurut Anda? Dedy Mizwar dalam satu bait puisinya yang hari ini saya saksikan dalam iklan yang tak sengaja saya selihat selagi menikmati Ayam Pop (dapat dilihat disini http://nenyok.wordpress.com/2008/05/20/bangkit-itu/),

Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu malu, teman. Tapi sayang kita tidak pernah malu. Dan tak punya malu, tapi selalu mengagungkan kemaluan. Sedemikian hingga kemaluan yang senantiasa dibesar-besarkan lebih besar dari kapasitas otak kita sendiri dalam berpikir. Otak kita terbentuk dalam satu tatanan kebodohan terstruktur akibat program pembodohan terstruktur pencarian bakat menyanyi di televisi yang run-time acaranya dari jam 6 magrib sampai jam 12 malam. Sementar buku pelajaran tetap ada di kantong tas kita tanpa pernah kita buka kembali setelah pergi ke sekolah yang melelahkan.

Daku Ingin Kepal Tangan Ini
Menunaikan Keanggunan
Putra Bangsa Yang Mengemban Cita
Hidup Dalam Kesatuan…

lagu: berikbarlah
(disadur dari http://playmp3.saktilindo.biz/2008/01/13/berkibarlah-bendera-negeriku/)

Kiranya bagaimana mengepal tangan, ketika lapar telah menjerit. Bukan laparku kawan, bukan lapar kamu juga, tapi lapar anak-anak penerus bangsa ini, yang orang tuanya tak mampu membeli makanan, ketika laba menjual gorengan hanya cukup untuk membeli minyak goreng dan terigu lagi. Bapaknya tidak pernah mengenal kata lapar, tapi hatinya tak habis menjerit, demikian juga hati kita, ketika kita menyadari bahwa uang yang kita dapatkan habis di mall, membeli sebuah baju seharga 50 dollarlebih sementara harga beras mungkin hanya 0.01 % dari penghasilan kita, sementara meraka mencuri uang Rp. 2500 untuk membeli bola plastik dan bermain di lapangan parkir kita.

Bukankah itu sebuah ironi?

Dalam kesadaran kepolosan hati ini, aku menuliskan ini untuk sekawan bangsaku. Bersama maafku atas usahaku yang hanya sekecil ini dalam membantumu. Aku tahu, tenaga dan keyakinanmu untuk berjuang demi kebaikanmu dan bangsamu lebih besar dari sekedar rasa kasihan orang sekitarmu, pun rasa simpatiku. Satu hal yang mungkin bisa kamu pegang, kamu tidak sendiri, kami bersamamu dalam segala bentuk yang kami bisa.

Indonesia lebih baik ditangan kalian yang memakan nasi dari tanah kalian sendiri, bukan memakan kentang hasil francise negara lain. Indonesia lebih baik di tangan kalian yang memandang langit dari lembah terdalam nusantara, kemudian pergi ke puncak tertinggi di nusantara menahan matahari untuk menyinari kesuburan tanah kami, dan memerangi kuman yang merusak tanah kami.

Kami bersamamu.

– Untuk semua proletariat di Indonesia

Bukankah itu sebuah ironi?

4 thoughts on “Bukankah itu sebuah ironi?

  1. @ikram
    entah mana yang lebih bagus, katanya produksi gas kita lebih tinggi, jadi sebaiknya bahan bakar rumah tangga di ganti ke gas. Juga konsumsi bensin untuk keperluan lain dan sebagainya memang kita terlalu konsumtif, makanya, kurangi pemakaian kendaraan bermotor, perbaiki sarana transportasi masal.

    CMIIW

    @nenyok
    sama-sama, salam kenal. Ada beberapa motivasi saya menulis posting ini diakibatkan oleh perayaan megah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s