Buruknya Pengguna Jalan di Jakarta

Ya, termasuk gw juga, secara semua penduduk Jakarta adalah pengguna jalan di kota Jakarta juga tentunya. Beberapa kritik yang ingin saya sampaikan kepada diri saya, serta pengguna jalan lainnya antara lain adalah,

  • Jangan merasa seperti elo adalah yang paling penting di jalan!
  • Contoh, jangan mentang-mentang jalan memotong yang berlawanan arus jalan utama di rel kereta Pasar Burung Pramuka adalah lebih pendek daripada memutar jauh di Pasar Genjing, atau perempatan Matraman, Anda jadi berhak melewati jalan itu. Bikin orang lain susah, bikin macet yang lain juga. Anda bukan satu-satu-nya yang mungkin dikejar waktu pagi itu, atau Anda juga bukan satu-satunya yang butuh lewat jalan itu pagi itu. Jadi jangan merasa Anda yang paling penting, sehingga Anda berhak melawan peraturan tersebut, dan membahayakan diri Anda, juga diri orang lain

  • Ga usah sok jadi jagoan
  • Contoh, mentang-mentang Anda adalah pemegang rekor balap motor di So-Called-Motor-Community-di-Gedung-Kantor-Anda, bukan berarti Anda berhak kebut-kebutan di Jalan, dengan motor Anda yang bising, atau Anda berhak nyelak dan memotong jalur orang seenaknya aja. Anda memang jagoan, tapi jagoan juga manusia, dan kecelakaan adalah temennya manusia yang ceroboh dan arogan.

  • Semua orang pengen sampai rumah cepat, atau sampai tepat waktu
  • Jadi pelase deh, gak usah sok-sok-an ngebut, dan ngebahayain diri sendiri dengan mencoba nyelonong lampu merah, meskipun lagi kosong. Nyelonong lampu merah paling cuma menambah 5 detik ekstra waktu Anda. Kalau mau signifikan dan sampai rumah lebih cepat, atau tepat waktu, Anda pergi lebih awal, 30-60 menit dari jam sebenarnya. Dijamin, kalau tidak ada aral yang melintang, Anda akan datang lebih cepat, dan Anda bisa berkendaraan lebih santai, gak perlu jadi jagoan, dan sok-sok-an nantang maut.

  • Semua orang sama nyari makan di jalan
  • Semua orang butuh duit, semua orang nyari makan di Jakarta, semua yang nyari makan di Jakarta pake jalan yang sama dengan yang elo pake. Artinya, bukan berarti mentang-mentang muatan lagi sepi, atau Anda lagi stress di kantor, Anda bisa bebas berlaku seenaknya di Jalan. Sadarilah, kita semua makhluk sosial, yang saling butuh satu sama lain.

  • Pejabat Pemerintahan Kota Jakarta: Tolong coba ikut naik kendaraan umum
  • Jelas, ketika Anda menggunakan kendaraan dinas atau pribadi Anda, dengan dikawal oleh voorijder ataupun mobil ajudan Anda, yang mensterilkan jalanan, Anda tidak merasakan kemacetan jalan, Anda tidak tahu masalah yang dihadapi masyarakat Jakarta. Anda berhak menggunakan fasilitas tersebut, jelas, karena Anda kami pilih, dan kami gantungkan hidup dan kenyamanan kami di kota ini pada Anda. Jadi tolong, kalau fasilitas itu Anda gunakan, Anda bisa tunjukkan timbal balik-nya terhadap kemajuan sistem transportasi (atau sistem lainnya), di kota ini. Kalau, kami ngalah dan ngasih jalan kendaraan ke Anda, dan Anda tidak berbuat sesuatu atau tidak ada progress yang cukup berarti untuk kota ini, buat apa kami kasih jalan ke Anda, dan BUAT APA KAMI BAYAR PAJAK!!!

  • Hargailah Pengemudi Kendaraan Umum
  • Karena, menurut saya pribadi, apabila kita menggunakan fasilitas tersebut dengan baik dan benar, dan para pejabat berpihak pada mereka, maka kemacetan di Jakarta akan teratasi. Solusi menangani kemacetan, bukan dengan menambah jalan, tapi mengefektifkan mass transportation. Dan itu ada pada armada kendaraan umum. Dan Armada kendaraan umum bukan hanya busway. Jadi ada baiknya pengembangan sistem transportasi umum lainnya, bus kota, metro mini, dan lain sebagainya, ikut ditingkatkan.
    Meningkatnya volume kendaraan bermotor di jalan Jakarta (contoh motor bebek), menurut saya pribadi adalah bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap solusi transportasi yang ditawarkan pemerintah kota Jakarta. Emang ada yah solusi yang ditawarkan? Jadi masyarakat mengambil keputusan sendiri, dengan menggunakan jasa kredit yang menguntungkan produsen motor dari luar negeri, dan terus menghabiskan cadangan minyak, cadangan devisa yang digunakan untuk mensubsidi BBM tersebut. Seandainya mass transportation system kita cukup baik, volume kendaraan bermotor dapat dikurangi. Karena 50 motor/mobil yang tadinya memenuhi jalan, mungkin dapat dikurangi menjadi hanya 1 bus umum.

  • Saling menghormati sesama pengguna jalan
  • Buruk perangai masyarakat dapat diketahui dengan dengan mudahnya mereka mengumpat sesama masyarakat Indonesia sendiri, cuma karena hal-hal sepele.

Ah, sebuah kritik bagi saya pribadi, dan pada masyarakat Jakarta itu sendiri. Semoga keadaan masyarakat kita akan lebih baik, pengangguran berkurang, rawan pangan berkurang, sehingga kita bisa bekerja dan bermasyarakat dengan lebih baik lagi.

Buruknya Pengguna Jalan di Jakarta

3 thoughts on “Buruknya Pengguna Jalan di Jakarta

  1. wah yang pertamax nih…

    kritik membangun tuh, emang bukan saja buruknya pengguna jalannya aja tapi jalannya sendiri sekarang jadi banyak yang burok, dimana-mana berlubang, udah bukan keriting lagi tp kribo.. halah kok nyamain sama di Bogor…

    Met kenal ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s