Review Subjektif Film: Get Married

Okeh, sebelum saya memulai, saya ingin mengakui kesedihan dan keprihatinan yang saya alami. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada pergi nonton hemat sendirian di salah satu bioskop di Jakarta yang dipenuhi oleh para abegeh, dan ketika beli popcorn, kasirnya bahkan tak mau melihat lo sedikitpun. Life sucks, anyway. Gw gak tau mau masukkin film yang gw tonton sebagai nilai tambah atau nilai kurang dari kepedihan yang gw alami hari ini, gw nongton Get Married, pelemnya Nirina Zubair, yang kesekian.

Ekspektasi gw sama film ini memang cukup tinggi. Pertama karena, ini film komedi, diantara film Indonesia yang kayaknya itu-itu aja sekarang. Iklim film kita gak berubah, masih tetap berhembus ke arah film horor. Dan film romantis, ataupun film drama yang beberapa bulan beredar, tidak terlalu menarik perhatian gw. Kedua, apa yang lo harapkan dari 4 hari cuti, dan gak ngelakuin apa-apa kecuali ngurus kerajaan lo di Warbook. Jelasnya, lo mengharapkan kehidupan sosial yang nyata. Setidaknya gw mengharapkan suasana sosial. Jadilah gw pergi ke Djakarta Theatre, berharap bisa mendapatkan hiburan sosial atas hidup asosial gw beberapa hari belakangan ini.

Film “Get Married” ini disutradai oleh Hanung Bramantyo, which is, kalo gw ga salah beliau juga yang menyutradarai Jomblo. Jadi ketika film ini mulai, dan ada beberapa animasi, mulailah mungkin lo ngerasa ni film mirip sama Jomblo. Kisahnya, tentang 4 anak manusia, 2 lelaki, 1 wanita, 1 lagi apa yah? (aming jenis-nya apa oi?, heheh, heureuy atuh Ming). Lucu di awalnya, yah, secara pemaennya Desta, Ringgo, sama Aming, plus Nirina yang memang kayaknya cocok jadi peran cewek tomboi, daripada peran cewek serius kayak di film Heart.

Tapi yang jadi concern, dan ngejatuhin mood gw ketika gw nonton ni film, adalah jalan cerita pas di akhir-akhirnya. Beserta dialog-dialog yang gw ngerasa sangat tidak nasionalis. Ketika si Bob, anak buahnya si Rendy, bawa temen-temennya anak kompleks untuk bales serang ke anak-anak kampungya si Mae (Nirina), dia ada bilang,
“Lo seh, dah kelamaan di State. Lo lupa cara Indonesia”

Sakit hati gw dengernya, bangsa gw direndahin kayak orang Barbar, dan dibandingin bahwa cara di United States, lebih demokratis dan manusiawi. Please deh!!!! Tawuran itu cara Indonesia? gak banget!

Dah itu aja yang gw mo tulis, abis denger adegan itu, gw langsung pengen pulang, gak menarik lagi tuh film bagi gw.

Review Subjektif Film: Get Married

20 thoughts on “Review Subjektif Film: Get Married

  1. ahung says:

    heyhey hey happy idul fitri dut..maafkan salah2ku🙂
    btw ngom2 km pergi karena ga tahan ma pelemnya apa ga tahan nonton sendirian siy?

  2. #ahung

    ya gara-gara nonton sendirian sih, * loh *

    #boneng
    well, itu Indonesia banget yah??? Iya, tepatnya cara Indonesia yang udah terakulturasi budaya kekerasan yang ada di Tipi.

  3. ah, shit lo mengingatkan gw pada tragedi AADC nonton sendiri..

    “Ketika para pasangan kekasih saling mendekap, saya disana sendiri, masuk lebih dalam kedalam bangku Kiara 21 yang busuk”

    hehehe

  4. adam says:

    gw ga mw bahas masalah lo bete pa ga nonton sendirian…tapi pilm ni bikin gw ketawa ga da habisnya….ditengah maraknya film horor yang lagi booming banget,…pkoknya Get Married gw kasih nilai 8 lah….

  5. Secara gue blom pernah nonton, gue cuma mau ngutip kata-kata lo soal tawuran. Ehm, emang… siapa sih yg mau dianggap rendah?

    Tapi kalo dibilang tawuran bukan cara Indonesia, lho?! Bukannya emang iya?🙂 Maunya sih, ngga gitu. Tapi… secara orang Indonesia itu bukan kita aja, gitu… (yg nekat banyak!)

    Gue bukannya dendam atau trauma atau apalah sebutannya. Jangan salah tangkap. Biarkan saja potret keadaan negeri ini kita saksikan (meskipun disajikan dalam label fiksi). Ambil sisi positifnya aja, deh.

    Ya.. kayak boneng bilang: bahwa ada otokritik thdp orang kita sendiri.😉

  6. temans thx komennya

    #boneng

    sep lah kalo ni film jadi otokritik buat bangsa sendiri. moga-moga bisa menyadarkan orang orang Indonesia bahwa Tawuran bukan bagian dari kebudayaan kita.

    # adam
    Gw juga mau kasih nilai 8 sama komedi dan ide segar yang disampaikan oleh film ini. Cuman ada beberapa bagian dari film itu yang gw kurang setuju.

    #anti anarkisme
    Gw seh berharap tawuran gak jadi budaya Indonesia, karena dari dulu bukan budaya kita.

    Sekarang ada film yang menyajikan hal kayak gini, dan mengkritik kondisi budaya kita, semoga kita terkritik, dan apapun permasalahan yang ada semoga gak diselesaikan dengan tawuran.

    #jay lek
    Hi Jay Lek, ngeliat orang pake harley davidson, bergaya ala barat, kemudian, bilang, “Lo kelamaan di States seh, jadi lupa cara Indonesia”

    YEA RITE!
    FYI, States (kalo emang merujuk ke United States) yang nyerang Irak, States yang meng-embargo, States yang menguasai PBB. Cara mereka lebih tidak masuk akal, IMHO.

    Film Indonesia harus nasionalis, emang gak harus. tapi setidaknya gak perlu ngejelekkin bangsa sendiri dengan membandingkannya dengan bangsa lain, yang bahkan tidak lebih baik dari bangsa kita sendiri.

  7. t-wee says:

    kalo menurut gue, film get married itu kocak stengah mati!! untuk kekocakannya gue kasih nilai 9!
    dan yang gue salutin lagi, film ini nongol dimana film horror lagi merebak.
    nah, kalo masalah “Lo seh, dah kelamaan di State. Lo lupa cara Indonesia”, ada salahnya, ada benernya.
    coba liat di tivi, orang indonesia kalo protes pasti ribut n gak pake cara yang lebih baik. kita bercermin deh. dan gue rasa film itu mengingatkan kita dengan kebiasaan kita yang suka ribut n adu otot kalo ada masalah. coba, berantem disekolah aja udah termasuk kayak gitu loh. dan kalimat itu emang menyinggung bangsa kita, tapi kita juga harus ngerti apa maksud kata” itu.
    kalo salahnya ya bangsa kita di banding2in ma bangsa lain. oke kita gak terima, tapi kita juga harus paham, itu menyinggung masalah yang sering muncul di indonesia, tawuran.

  8. #t-wee

    thanks for your comment.

    Pada dasarnya, gw ngeliat ada perubahan budaya di Indonesia, kalo gak salah jaman gw sd, entah karena satu dan lain hal tentang kondisi keamanan di Indonesia atau karena gw gak ‘ngeh’ dengan kondisi sosial yang ada. Blum begitu banyak tawuran yang ada. Meskipun Jakarta medio 1995-2000, banyak tawuran pelajar, bahkan beberapa bulan terakhir di Salemba ada tawuran.

    Kondisi budaya kekerasan bukan budaya Indonesia IMHO, gotong royong, musyawarah, meskipun cuman ada di buku PPKn, gw yakin di beberapa daerah budaya ini adalah budaya aseli yang masih dipertahankan.

    Gw yakin, orang Indonesia (bukan cuma orang Indonesia aja, tapi manusia secara keseluruhan) itu orang yang berbudi, dan dasar hatinya bukan kekerasan. Sehingga, thanks bwt temen-temen yang bilang itu kritik buat kita semua, yang lebih ngutamain kekerasan.

    Dan, sorry, secara subjektif gw tetep gak setuju, dengan istilah pembandingan cara kita dan cara states, yang ada di film itu.

  9. jay lek says:

    umm, dlm hollywood udah bnyk statement yg melawan pemerintah AS soal irak dll, misalkan film baru disutradarai brian de palma. kpn film2 indonesia mau ngekritik timur2 ato pembunuhan k’munis? itu pun udah sejarah kuno, tetap tabu. tp geopolitik bukan intiny, ini lbh kayak table manners yg dikritik bikin lw sensitif..

  10. boneng says:

    Liat track record penulis skenarionya : Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Nagabonar Jadi 2, Get Married … ada benang merah. konsisten. makanya ini film Musfar Yasin. kalau Hanung Bramantyo, nggak konsisten, hari ini bikin Get Married, besoknya bikin Sundel Bolong, besoknya lagi bikin Ayat-ayat Cinta.

    Yang ngomong “Lu kelamaan di State” kan bukan tokoh yang ‘baik’ yang mewakili isi film ini. Lihatlah film ini secara utuh, jangan sepotong2, jangan hanya mengutip dialog satu tokoh yang belum tentu mewakili isi keseluruhan film.

    Fakta bahwa kita ini doyan atau cenderung dengan kekerasan terlalu banyak. Tawuran antar RT, antar sekolah, antar kampung, antar suku, antar agama, antar fakultas, dan antar antar yang lainnya.

    di Get Married toh semuanya akhirnya berdamai, walau bonyok-bonyok, toh rangkulan. Kalau nggak jelas, nonton lagi deh filmnya. Masih tetep lucu, kok.

  11. #boneng

    Jadi begini mas, mungkin mas yang mengerti film, tentang peran antagonis dan protagonis, sampe tau benang merah penulis skernarionya.

    Well, saya cuma penikmat film, yang ngerasa, bahwa pernyataan kayak gitu, gak enak saya denger. Sekali lagi, gak enak saya denger. Bukan berarti, semua orang gak suka denger pernyataan kayak gitu. Mungkin saya juga kurang menekankan bahwa, pernyataan pembandingan cara Indonesia dan States, merupakan hal yang juga saya tidak suka. Karena, saya selaku masyarakat Indonesia merasa bahwa cara States tidak lebih baik dari Indonesia. Dengan beberapa fakta bahwa, kita memang bukan bangsa tawuran pada asalnya. Saya gak bisa memberikan bukti banyak, bahwa budaya kita terpengaruh oleh banyak budaya-budaya lainnya, baik budaya negatif maupun budaya positf.

    Secara keseluruhan memang ini film bagus, breakthrough film Indonesia, diantara film horor yang kadang tidak menarik. Cuma saja, ada bebrapa bagian yang saya tidak suka.

    Ini pendapat subjektif saya, Anda tidak suka? sama saja ketika saya tidak suka dengan pendapat yang ada film itu.

  12. oddworld says:

    Salam kenal sebelumnya untuk mas Fahdi

    Karena penulis skenarionya pak Musfar Yasin, semula ekpestasi saya ini akan jadi semacam Jomblo meet Nagabonar🙂
    Dan memang taste pak Musfar terasa dalam film ini, termasuk dalam celetukan celetukan yang bertebaran.

    Sayangnya celetukan celetukan semacam itu tidak dibahas dengan lebih dalam. Semisal celetukan ‘cara States dan cara Indonesia’ atau celetukan ‘meski di kampung ini pendidikan warganya tidak tinggi tapi tidak ada yang korupsi’ Mungkin pak Musfar tajut film ini akan tenggelam dalam monolog-monolog semacam di Nagabonar 2.

    Karakter Aming yang santri gagal sekaligus politikus wanna-be, meski cukup original, juga tidak dijadikan entry-point ke pembahasan kejadian-kejadian yang terdapat di film ini dalam kacamata seorang mantan-santri/politikus wanna-be.

    Sementara endingnya terlalu smooth, seperti dalam Nagabonar jadi 2 saya merasa pas Musfar sebetulnya menyimpan potensi untuk membuat ending yang lebih menggigit. Mungkin bisa dibuat konflik terakhir itu tidak sekadar lucu-lucuan tapi juga menentukan seperti di Gangs Of New York (sadis sih🙂 )

  13. boneng says:

    duh, kalau penulis skenario ngikutin sarannya Oddworld bisa2 pilemnya jadi keberatan beban, gak lucu lagi.
    udah, biarin gitu, gak usah ngikutin Gang Of New York, biarin aja ala Gang Senggol.

  14. ahung says:

    klo saya mah ga suka kata2 *nj*ngnya.. buat kebutuhan pelem si saya terima, tp kebanyakan, bener2 kebanyakan, tidak menambah tingkat suasana emosi yang diinginkan dalam film, cuma nambah sakit kuping, apalagi di bioskop dengernya

  15. herun says:

    lucu aja gitu ngliat orang mati2an berdebat soal film. gue juga gak abis pikir kenapa ‘kematian’ film indonesia begitu ditangisi dan ‘kebangkitan’-nya begitu dielu-elukan. yang untung siapa sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s