Maling di Kampung Saya

Mengejutkan. Belum 5 menit saya berbaring menarik napas setelah sebelumnya kuliah Well logging, terdengar teriakan di gang depan rumah saya, “Maling-maling”. Saya keluar rumah dong, biar kerasa eksis di lingkungan sini, eh gak jauh dari mulut gang rumah saya, si maling tertangkap. Dan beberapa pukulan mendarat di wajah maling tersebut. Ia maling saat itu, dan mungkin tidak di lain waktu. Perawakannya kecil. Tak sempat saya melihat dengan jelas bagaimana wajahnya saat itu, pun tak sempat pula saya tahu apa yang Ia malingi.

Yang lebih bikin saya terkejut lagi sebenarnya bukan keberadaan curi mencuri tersebut. Tapi psikologi dan kondisi lingkungan sosial sekitar kita, apalagi di daerah Jakarta, apalagi di perkampungan Jakarta seperti daerah rumah saya ini, sudah mulai beringas. Mulai banyak pencurian, mulai banyak pemukulan, dan merokok di gang jalan sudah mulai wajar di bulan Ramadhan ini, meskipun di gang sebelah ada Masjid yang cukup besar. Di pojokan jalan, pemuda yang baru memasuki usia produktif, banyak yang nongkrong kagak jelas juntrungannya. Menjadi Tukang Ojek dan ngetem seharian di ujung gang, adalah profesi yang sangat diminati, entah apa yang salah dengan menjadi tukang sapu yang lebih berusaha keras mengeluarkan keringat daripada duduk nongkrong dan ngopi di warkop ujung gang.

Dulu, menjelang lebaran seperti saat sekarang ini, waktu saya masih tinggal di Bekasi, saat-saat berkunjung ke rumah nenek ini adalah saat yang menyenangkan. Kala itu, temen-temen masa kecil saya masih banyak, seperti biasalah, musim lebaran, tanggok sana-sini, ngumpulin 500-an baru. Kami yang masih kecil hormat kepada yang tua, dan yang tua menyayangi kami yang masih kecil. Suasana di lingkungan saya masih terasa lengang, belum padat seperti sekarang ini. Friksi, aduh, sepertinya belum dikenal saat itu. Meskipun tidak jauh dari lingkungan sini, terdapat daerah yang mulai terjangkit penyakit masyarakat seperti miras, madat, dan lain sebagainya. Sehingga kehangatan sebuah masyarakat yang damai terasa dengan jelas saat itu.

Menilik dari suatu hal yang kecil di lingkungan kecil sekitar saya, mungkin merupakan model yang valid untuk memandang perilaku masyarakat di Jakarta secara umum. Kondisi ekonomi yang kian berat, memaksa terjadinya gesekan antar kelas semakin tajam. Meraka yang berada di kelas bawah tak sungkan untuk menodong, merampok mereka yang ada di kelas atas. Dan mereka yang berada di kelas atas pun tak pernah sudi meluangkan sedikit rezeki mereka untuk meraka yang masih dibawah. Garis pemisah semakin lebar, dan semakin tebal. Bukan kesenjangan yang saya takutkan, tapi ketika rasa iri akan kemapanan seperti yang kita lihat sehari-hari di sinetron, tanpa adanya kesadaran untuk berusaha keras, menjadi hal yang mendorong naluri manusia menjadi naluri yang bukan manusia.

Terlepas dari semua kesenjangan, kemenurunan kondisi sosial masyarakat di kita, pasti masih terselip sedikit senyum diantara anggota masyarakat untuk tetap saling bergotong-royong * doh berasa tahun 1995 ajah *, membangun masyarakat yang hangat. Kita harus yakinkan itu kepada diri kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 1428 H, semoga masyarakat kita menjadi masyarakat yang saling menyayangi satu dengan lainnya.

Maling di Kampung Saya

2 thoughts on “Maling di Kampung Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s