Kemana Mencari Kebahagiaan?

Sebuah renungan mendasar yang tak kunjung dalam ketika terus dipikir, pun tak kunjung cerah ketika terus ditelaah. Menjauh ketika kamu paksa menarik, mendekat ketika kamu mencoba pergi darinya. Tiap simpul temali yang kau coba urai darinya seperti terus membelit lehermu, tapi ketika tali itu terbebas ia cuma teronggok di tepian jalan tanpa arti.

Aku bertanya, kemana harus mencari kebahagiaan?

Di tepian langit, ketika semua orang berkumpul, menadahkan tangan mengumpulkan air hujan, mereka berkata,
“Kebahagian ada di mula langit, muara sungai yang airnya membawa kesegaran atas dahaga kamu!”
Lalu haruskah aku menjadi haus terlebih dahulu untuk menjadi bahagia?

Ku pergi sejejak langkah ke timur, mencoba menemani matahari, bersama pemuja yang mendamba cahayanya,
“Kamu mencari kebahagiaan? Mari bergabung bersama kami, menikmati senyum pagi yang hangat”
Apakah itu artinya aku harus duduk diam dan berleha mengagumi senyum yang bahkan aku tak pernah berandil untuk membuat ia tersenyum

Dengan ketololan yang terus saja kubuat, kebodohan yang terus saja meningkat dan mengental di sepanjang ubun dan nadiku, aku sandarkan kelelahanku di sisi sebuah jurang yang dalam,
“Mari, jurang ini bukan rintangan, ini kenikmatan, ketika kamu berhasil menaklukkannya”
Demi kamu yang berteman dengan bahaya, apakah kamu pernah memikirkan orang yang mungkin lebih sedih kehilangan dirimu daripada diri kamu sendiri?

Aku berdiri entah di belahan dunia mana, terus bertanya sambil menangisi hati yang tak pernah kuat untuk bergetar,
“Tuhanku, apakah aku terlalu lemah untuk duniamu, sehingga tiap jalan yang kutelusuri, tak pernah sedikit pun ketemui bahagia”
“Tuhanku, demi gurun pasir luas yang Kau bentangkan di dunia ini, apakah sedikit saja butir pasirnya tak pernah senilai dengan keringat yang kukeluarkan”
“Tuhanku, atas kebodohan dan keangkuhanku, apakah nanti, tetap Engaku izinkan aku untuk bersanding bersama para kekasihMu”
“Tuhanku, atas sedikit bajik dan segunung dosa yang kupunya, apakah aku tetap boleh kembali kepadamu”

“Karena jalan yang paling baik untuk bahagia, adalah MATI untukMu, Rabbku”

Kemana Mencari Kebahagiaan?

2 thoughts on “Kemana Mencari Kebahagiaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s