Ke Melacca

Salam Pelangi,

Saya tidak ingin begitu menyanjung penulis yang satu ini, Adhitya Mulya, bukan kerana saya bukan homok, tapi memang kejeniusan penulis komedi seperti dia ini, hanya patut disanjung dengan mengapresasi karyanya. Karya terakhir beliau, adalah sebuah buku kolaborasi dengan 3 penulis lainnya, yang berjudul, Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona. Yang mana secara tidak langsung, buku itu memberi sedikit gaya pada inersia diri saya, sehingga membuat diri ini sedikit dinamis. * halah, bahasanya homok! *

Jadilah melakukan backpack trip saya yang pertama, ke Melacca.

Secara sekarang ini, saya lagi berada di negeri jiran, Malaysia, untuk training jadi makelar TKI (percaya atau tidak, saya sila kepada awak tuk menentukannya). Berminatnya seh saya backpack trip ke Langkawi, tapi apalah daya, saya kira Langkawi itu tinggal naek kereta dari KL, ternyata sebuah Pulau tempat berbulan madu yang jauh dari Kuala Lumpur. Perjalanan pertama saya ini, ditemani oleh seorang manager yang baru saja ditransfer ke Kuala Lumpur, * tolong catat nama saya, inget kalo butuh orang buat jadi manager yah *. Beliau juga yang menyarankan bahwa ke Langkawi dengan mendayung sampan, adalah perbuatan yang bodoh.

Jadi begini cerita di Melacca.

Sejujurnya, nama Melacca, itu umum kita dengar. Cuba buka kembali buku pelajaran SMP kita semua, seandainya SMP Anda adalah SMP yang normal, maka pelajaran sejarah pra kemerdekaan kita dimulai (atau diakhiri) dengan Kisah tentang Melacca, dalam buku sejarah, umumnya ditulis dengan nama Malaka. Entah bagaimana sejarah itu kemudian berjalan, sehingga yang lebih dominan dalam sejarah Melacca yang saya lihat di kotanya (ini ejaan resmi Malaysia) adalah sejarah Malaysia. Di kota ini terdapat musium literatur, yang intinya musium literatur tentang Melayu (saya seh gak masuk kesitu?). Terdapat pula, musium seni bina, atau arsitektur dalam bahasa kita. Dimana yang lebih dominan diceritakan adalah seni bina Melayu. In my stupid understanding, Malay is not only Malaysia. . But let’s just face it, mungkin saat ini Malaysia sedang gencar-gencarnya mendengungkan 50 th kemerdekaan, jadilah jargon Melcca, kota sejarah, adalah sejarah Melayu, dengan kata lain sejarah Malaysia.

Kami berangkat dari KL, jam 08.30, menyusuri LRT (kereta bawah tanah), kemudian disambung ke Monorail, untuk selanjutnya pergi melalui bus antar kota dari terminal Pudu Raya. Well, ternyata di sekitar terminal Pudu Raya ini banyak sekali penginapan untuk backpackers. Memang backpack dari Malaysia ke negara Asia Tenggara lainnya sepertinya lebih murah, ketimbang kita berangkat dari Jakarta langsung. Dari terminal Pudu Raya, kami pergi naik bis Trans Nasional, selama 2 jam menuju terminal Bis Melacca Sentral, terminal bis yang mengingatkna saya pada terminal Leuwi Panjang, dalam versi yang lebih modern dan lebih bersih.

Setelah melihat peta yang ada di tembok stasiun, saya langsung tertarik untuk pergi ke Jonker street. Beneran, saya cuman asal tunjuk aja tuh tempat. Kenapa? Seperti dijelaskan di awal, Melacca adalah kota sejarah, maka Jonker St. seperti daerah kecamatan tua yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua. Dan satu lagi, saya suka sekali dengan pantai, Jonker Street ini dekat dengan pantai. Meskipun setelah 2 jam berjalan, ide ke pantai siang hari adalah ide yang bodoh!

Banyak tempat yang bisa kita kunjungi di sekitar Jonker St., yang pasti adalah Stadhuys, kediaman Gubernur Belanda dahulu, kemudian Gereja St. Paul. Gedung-gedung ini berada di komplek Museum Malaka. Komplek ini terlihat dengan jelas dengan warna merah bata, jadi Anda tidak akan susah untuk menemukan tempat ini dari bis. Jonker st. terletak di seberang komplek ini, ada jembatan kecil yang melintas sungai Melacca, menuju ke Jonker st. Di daerah ini, yang paling menyenangkan adalah, kita bisa menemukan suasana antik, terutama apabila Anda menyenangi suasana antik etnis Cina. Dearah ini seperti halnya setting film Jackie Chan jaman baheula. Tak lupa kunjungi juga museum Cheng Ho, menurut penjaga museum, Ketika Cheng Ho pusing-pusing dunia 7 kali. Dia sempat mampir ke Melacca, hal ini diidentifikasi dari beberapa artifak peninggalan Cheng Ho disini.

Saya mencukupkan diri saya berpusing-pusing Melacca sekitar pukul 3.00 sore hari, ditemani es cendol yang tidak terlalu terasa manis di pinggir sungai Melacca, kami menunggu bis untuk kembali ke Kuala Lumpur.

Bicara tentang Melacca, pasti tak akan lupa bicara tentang Laksmana Melacca yang gagah berani, sebut saja nama-nama seperti Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, dan Hang Kasturi. Makam Hang Jebat juga bisa Anda ziarahi kita anda mengunjungi Jonker st. Nama lain Jonker st itu sendiri adalah Jl. Hang Jebat. Kita sambung lebih jauh lagi tentang Laksmana Melacca ini di tulisan selanjutnya, kalau inget😛

Best Regards,

Pelangi di Balik Matahari Melacca

Ke Melacca

4 thoughts on “Ke Melacca

  1. Befriko Murdianto says:

    Ternyata, lu ke KL cuma mau jalan2 doang, ngakunya mau training. Gak kasian ama temen kantor lu disuruh kerja mati2an sendiri di jkt? =p
    Salam sama adhitya mulya kalo lu ketemu, tanyain kpn mau jalan bareng lg?

  2. Fahdi….
    JFYI, since June 11th, 2007, I’m no longer manager yaaa *nggakrelamodeondipanggilmanager*

    And one more thing, pas berangkatnya nggak pake monorail kok, tapi pake 2 LRT yang berbeda, satu PUTRA dan satu lagi STAR. Nah pas baliknya, barulah pake monorail. *janganmenyesatkanatuh:p*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s