Itu Milikku

Sebuah lilin yang terbakar habis menerangi malam yang demikian cepat datang dan berkuasa dengan pekatnya, menjadi saksi nyata, bahwa sebuah makna cahaya hanya dimiliki oleh lilin itu. Makna yang mungkin kemudian dimunafikkan, kita anggap adanya sebagai ketiadaan.

Untuk apa kamu membakar habis dirimu? Kami tidak pernah meminta.

Makna itu hanya aku yang memiliki, aku berikan kepadamu, kamu boleh tolak itu, tapi maaf, kamu tidak bisa menghancurkannya.

Kemudian,

Dari sudut jalan yang mulai padat di pagi yang datang terlambat ini, sempatkan dirimu untuk memberi salam kepada matahari yang dengan lembut dan hangatnya menyapa. Kamu tidak pernah tahu, apa yang terjadi pada malam yang menggangap makna lilin menjadi tiada.

Sempatkan juga, memberi salam kepada air yang membasuh wajahmu, dan memberikan semangat baru padamu. Katakan padanya, aku ingin menjelma seperti dirimu. Menjadi tiada ketika semangat baru telah muncul, tanpa pernah bisa memilih, kepada siapa dirimu akan memberikan citra kemurnianmu.

Dari bagian bumi ini yang menghadap kearah timur ketika senja, dan ke arah barat ketika pagi datang, dimana bunga adalah kata yang langka dan debu adalah barang yang kami temui sehari-harinya. Sempatkan dirimu untuk mengenangku, yang tidak pernah menyerah menjelma menjadi air dan lilin. Meskipun di satu waktu aku menjelma menjadi bangkai najis yang terbungkus ego dan arogansi.

Makna itu milikku, aku berikan kepadamu, meskipun kamu tidak pernah meminta untuk hadir, dan kini mungkin kamu minta untuk pergi.

Itu Milikku

One thought on “Itu Milikku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s