Menulis Sedikit: Non Profitable Company

Pertama-tama, mari tinggalkan sisi puitis diri saya, dan sisi menulis dengan diksi romantis-namun-agak-psikopat yang biasa saya lakukan. Ingin sekali berbicara sedikit tentang pengalaman yang saya alami, setelah merantau kembali ke tanah halaman saya, Jakarta, setelah sekian lama beredar di Kota Kembang. Saya sekolah atau lebih pas-nya dikenal dengan kuliah tentang geofisika di Bandung, yaitu belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu fisika di bumi bagian padat ini. Nantinya, aplikasi keilmuan ini dapat dijadikan metoda untuk mencari sumber daya alam terutama mineral di dalam bumi. Jelas, sumber daya mineral ini nantinya juga menjadi sumber energi utama (terutama minyak dan gas), yang sampai saat ini masih menjadi sumber daya primer di belahan bumi manapun.

Ya betul. The world is now facing energy crisis. Kalau temen-temen pernah baca tentang Hubert’s Peak, * CMIIW *, produksi minyak dan gas bumi telah mencapai puncak produksinya di medio 2000-2025, dan akan mulai menurun setelah tahun 2025. Menegangkan bukan. Disaat China atau India yang mulai bergairah dengan industrinya yang membutuhkan konsumsi energi yang banyak, justru produksi minyak dan gas yang dimiliki dunia mulai menurun. Bagi kami, para kaum saintis kebumian, atau yang lebih keren bisa dibilang sebagai explorationist, kondisi ini membuat adrenalin kami bergetar lebih kencang dari seharusnya. Tantangan bagaimana menemukan sumber cadangan baru semakin tinggi. Kami percaya, bahwa produksi memang menurun, cadangan boleh menipis, tapi masih banyak celah-celah di bagian bumi ini yang belum dijamah dan diyakini memiliki potensi minyak dan gas yang besar.

Sesuai dengan hukum ekonomi, kelangkaan akan suatu barang, akan mengakibatkan nilai jual benda tersebut menjadi tinggi. Tentunya hal ini sesuai dengan kondisi yang kita alami sekarang. Dimana harga minyak mencapai $80 per barrel (CMIIW). Di sisi konsumen tingkat akhir seperti ibu rumah tangga, kondisi seperti ini memang membuat mereka semakin menarik urat leher untuk terus berteriak bahwa harga barang lain semakin tinggi. Tapi dari sudut pandang oil company, dengan harga minyak yang tinggi, mereka bisa mendapatkan revenue yang tinggi. Dengan adanya revenue yang tinggi mereka bisa melebarkan sayap-sayap produksi mereka.

Dari sinilah, para perusahaan oil service yang memberikan jasa eksplorasi dan/atau produksi berjaya. Mereka semakin memacu diri mereka untuk memberikan service yang terbaik, memberikan solusi yang terbaik, mereka juga meningkatkan teknologi mereka menjadi yang terdepan di bidangnya. Saya cukup tercengang ketika mengetahui ternyata teknologi imaging lubang bor yang hasil pencitraannya mirip seperti mengambil foto dinding lubang bor, ternyata sudah dimulai dari awal dekade 90-an. Enam belas tahun kemudian, yaitu saat ini, teknologi ini sudah mencapai titik pencitraan ultrasonik lubang bor.

Logika menarik yang dapat diambil dari hubungan antara kebutuhan energi yang terus meningkat dengan peningkatan teknologi eksplorasi minyak dan gas bumi adalah bagaimana mungkin kita mampu mengembangkan teknologi tinggi jika kita tidak mampu menggenerate revenue setinggi mungkin. Sehingga, apapun yang menjadi dasar pemikiran bagi kita yang bergerak di bidang oil service, adalah bagaimana menghasilkan revenue setinggi mungkin.

Sisi “misuh” dalam diri saya berkata, “Anjrit, gue gak terbiasa dengan kondisi yang menjadikan uang sebagai objektif utama”. Saya terbiasa dengan kondisi di kampus yang menjadikan “Belajar, dan ketahuilah sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknhya hal” sebagai objektif dalam lini kehiudapan saya. Sedikit merenung, secara bijak kadang saya ingin menasehati diri saya dengan kata-kata sebagai berikut,

“Sudahlah, kamu lakukan saja tugasmu sebaik mungkin, kalau kamu kerja sebaik mungkin pasti objektif revenue kamu juga tercapai. Bukankah dari dulu kamu sudah tahu bahwa, uang adalah efek samping dari profesionalisme dan kerja keras kamu sendiri”.

Ya betul, wahai sisi bijak diriku. Saking aja, gue bete dengan kondisi yang kayak gini. I miss my campuss and I want to work for google😀 yang katanya menjadikan revenue bukan hal yang utama.

CMIIW, standar milis ;))

Menulis Sedikit: Non Profitable Company

6 thoughts on “Menulis Sedikit: Non Profitable Company

  1. mods.. elu cuma kaget. inget, elu hidup didunia kapitalis. google gak fokus ke revenue? it is a BULLSHIT mods… that is just only for google’s marketing strategy.

  2. Berdasarkan ayat rekomendasi, yang berisikan petunjuk dan perintah untuk ‘ngulik’ ciptaan Gusti Nu Agung berikut ini: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

    “Yaitu (orang-orang) yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Wahai Tuhan kami, tiadalah Kau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci, maka jauhkanlah kami dari api neraka(Mu)”.

    Derajat sisi non-misuh lo sudah menaikkan maqom lo lebih tinggi lagi. Dan membuat diri lo terkena pasal yang disebutkan dalam hadits: “Al-‘ulamaa u warosatul anbiyaa”. orang-orang berilmu (al-ulamaa) itu pewaris para nabi.

    Salaamun alaikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s