Tentang Geofisika dan Non-Geofisika Gempa Jawa Tengah

Nulis tentang gempa ah.

Setelah Aceh, tahun 2004 lalu, bangsa kami kembali dilanda musibah. Kali ini Jogja. Beberapa saat yang lalu memang Jogja dilanda musibah gunung berapi. Syukur, kejadian ini bisa diantisipasi dengan baik. Yang tak disangka justru aktifnya pergeseran lempeng di selatan Jawa. Awal ketika mendengar adanya gempa di Jogja, yang terlintas di pikiran saya memang gempa vulkanik akibat aktifitas Merapi. Tetapi begitu sampai di Kampus, dengar cerita dari orang-orang, ternyata gempanya gempa tektonik.

Tulisan ini mau saya bagi menjadi dua bagian, pertama pembahasan dari segi non-geofisika, misalnya sosial. Kedua, dari segi geofisika kegempaan itu sendiri.

DISCLAIMER: TULISAN INI DIBUAT TANPA PENELITIAN SEBELUMNYA, SERTA BEBERAPA PERNYATAAN YANG DIAMBIL TIDAK DISERTAKAN REFRENSINYA (lupa).

Persepsi Non Geofisika Tentang Gempa di Jawa Tengah

– speechless – gak bisa ngomong apa-apa kalo tentang ini. Yang terlihat dari tayangan di layar kaca, masyarakat sekitar pantai bahkan yang di kota panik tentang adanya kemungkinan tsunami. Memang tragedi Aceh benar-benar memberikan dampak pukulan traumatis dan psikologis untuk masyarakat Indonesia, pastinya juga dengan masyarakat di negara lain.

Satu hal yang perlu di garis bawahi, ternyata masyarakat kita memang kurang mengetahui kondisi lingkungannya sendiri. Kondisi alam Indonesia, selain Indah tentunya, sangat memungkinkan terjadi banyak bencana alam, dari gempa sampai gunung api. Teori Continental Drift sudah dikenal orang di tahun 1960-an, kemudian beberapa teori tentang Tektonik Indonesia pernah dipaparkan dan dikenal di kalangan akademisi kebumian di sekitar tahun 1980-an. Teknologi bangunan juga sudah mengenal teknologi tahan gempa sudah dari lama ( CMIIW ). Sekian tahun setelah itu, regulasi tentang bagaimana seharusnya menghadapi kondisi alami Indonesia belum pernah terdengar secara luas (yang ini juga CMIIW). Safety procedure ketika terjadi bencana alam juga belum pernah terdengar secara luas.

Kalau boleh saya simpulkan, masyarakat kita ini perlu lebih mengetahui kondisi alami Indonesia itu sendiri, serta bagaimana menghadapi hal tersebut. Dan itu memang tugas kami selaku mahasiswa yang belajar kebumian dengan menggunakan uang rakyat😀. Ya, gue nulis ttg itu di blog ini kan😀

* ini pake aan * AKU DENGAR DI BERITA KEMARIN BANYAK YANG MENGGUNAKAN KESEMPATAN BENCANA INI UNTUK MENJARAH!!!! KEPARAT KELEAN SEMUA!!!! BANGSA SENDIRI LAGI SUSAH, MALAH DIJARAH. LAKNATULLAHI ALAIH!

Persepsi Geofisika Tentang Gempa di Jawa Tengah

Tsunami Aceh menjadi momok yang begitu mencekam bagi masyarakat kita. Karena itu begitu terasa getaran, apalagi bagi mereka yang berada di dekat pantai, masyarakat kita terbayang tragedi Aceh. Ya, untuk hal ini sebaiknya sosialisasi ttg tsunami dan bagaimana safety procedure-nya lebih digencarkan.

Dari tinjauan seismologi, hiposenter terletak pada kedalaman 35 km dengan momen magnitude sebesar 6.3 SR (dari USGS). Dari solusi momen tensornya, diketahui bahwa mekanisme fokus gempa ini adalah sesar geser (ini juga dari USGS). Kemudian episenter gempa juga tidak jauh dari garis pantai. Hal ini menjelaskan mengapa gempa di Jawa Tengah tidak menimbulkan tsunami.

Kondisi subduksi Palung Jawa, seperti diketahui adalah subduksi yang berumur tua. Sehingga stress accumulation hasil pertemuan dua lempeng di selatan jawa, terletak pada posisi yang dalam. Hal ini membuat (mungkin loh), pembangkitan gelombang tsunami di permukaan laut agak susah. Berbeda dengan Tsunami Aceh yang terjadi akibat gempa dengan kekuatan 9 SR pada kedalaman hiposenter kurang dari 20KM.

Intensitas gempa yang terjadi cukup besar. Hal ini adalah pukulan yang berat bagi masyarakat kita. Sampai pagi ini, ada sumber yang menyebutkan bahwa korban jatuh mencapai 3000 orang. Beberapa sumber ada yang bilang 80% rumah di daerah Imogiri rusak berat. Per satu RW, ada sekitar 8-12 orang yang meninggal. Mengapa? Selain fungsi dari magnitude gempa, intensitas merupakan fungsi dari kondisi daerah yang dilalui gelombang tersebut. Kondisi rumah di daerah tersebut sangat merugikan apabila terjadi gempa. Apalagi gempa tersebut terjadi sekitar pukul 6.00 pagi, ketika masyarakat masih banyak yang terlelap. Sangat disayangkan! Inilah mengapa sangat dibutuhkan konstruksi tahan gempa di Indonesia😀

Kemudian dari beberapa obrolan dengan dosen disini (tanpa penelitian lebih dalam), kondisi daerah sekitar Jogjakarta yang basinal (cekungan) menyebabkan gelombang yang menghantam Jogja dari selatan terkurung di basin Jogja tersebut. Ketika seharusnya energi gempa tersebut diteruskan ke arah utara, gelombangnya menabrak batas cekungan di arah utara, sehingga gelombangnya terpantul kembali ke arah selatan. Hal ini dikonfirmasi dengan lama gempa utama yang terjadi kemarin mencapai 1 menit. Foreshock-nya pun masih terasa sangat hebat, dengan frekuensi yang cukup tinggi.

Beberapa opini lain (tentunya tanpa penelitian lebih lanjut dan mendalam), hasil obrolan disini. Syukurnya, Merapi telah meletus terlebih dahulu, kalau tidak gempa yang terjadi bisa lebih besar. Karena beberapa bagian yang tertekan meleleh (terjadi partia melting pada badan subduksi), sehingga menekan Merapi untuk meletus terlebih dulu. Akumulasi energinya telah terbagi untuk Merapi dan untuk gempa kemarin.

Kemudian, Bagaimana Selanjutnya?

Dari segi teknikal, pemetaan fault, ataupun joint di daerah-daerah yang memungkinkan terjadi gempa, ada baiknya dipetakan dengan lebih seksama, sehingga masyarakat tidak perlu membangun rumah di zona sesar. Kalo gak salah peta bahaya kerusakan yang mungkin terjadi akibat gempa sudah pernah dibuat, mungkin lebih ditingkatkan lagi untuk skala yang lebih kecil.

Sangat diperlukan bagaimana membuat rumah tahan gempa yang murah, tanpa harus merubuhkan bangunan yang lama😀 * loh mungkin gitu? *

Masyarakat Indonesia, sudah selayaknya memahami lebih detail kondisi alami Indonesia, serta bagaimana prosedur yang tepat ketika terjadi bencana alam.

Sekali lagi,
DISCLAIMER: TULISAN INI DIBUAT TANPA PENELITIAN SEBELUMNYA, SERTA BEBERAPA PERNYATAAN YANG DIAMBIL TIDAK DISERTAKAN REFRENSINYA.

Tentang Geofisika dan Non-Geofisika Gempa Jawa Tengah

6 thoughts on “Tentang Geofisika dan Non-Geofisika Gempa Jawa Tengah

  1. johan says:

    Waktu lagi ngebrowsing buat cari ide skripsi ketemu sama ini artikel, kirain karya ilmiah beneran. Btw, ngerti banyak juga soal geofisik n gempa, kuliah dimana mas? Tapi gak apa-apa lah, udah bisa nulis beginian udah lumayan juga kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s