Malam Ini

Malam ini, tidak sama, seperti Jum’at malam sebelumnya. Meski ditulis dari balik meja yang sama, dihadapan dua jendela yang jelas menghadap ke rerumput hijau yang 4 tahun terakhir ini tak jauh berbeda. Ini kali, suasananya berbeda. Ada reaksi diantara kepulan asap rokok, dan cuaca dingin ini. Ada senyuman yang terngiang atas suasana ini. Ada mata yang mencuri lirik ke arah langit, tersenyum pada Sang Penguasa.

Sebentar, aku ambil sebatang rokok lagi. Angin yang bertiup kencang dari jendela, membuatku harus menghabiskan 3 batang korek api, untuk menyalakan rokok ini. Menikmati kepulan asap. Melihatnya menghilang dibalik udara yang bercampur dengan dirinya.

Malam ini, ingin kutulis semua keinginan yang tak sempat terucap. Dulu ketika kuasa inginku lebih kuat dari kuasa waktu, tiap detik di saat ini adalah wawancara pada uraian mayang yang terselip mencuri kesempatan melihat dunia. Kemudian, diantara cangkir teh, dimulailah perbincangan tentang makna energi yang kerap menghilang. Tentang manusia yang terus tamak akan karunia semesta. Hey, jangan lihat, saat riang tawamu mulai muncul, kusempatkan mencari kuas dan warna, lalu tanpa kamu sadari, aku mulai menggambar detail hitam mata, kemudian refleksi alis, pencahayaan dari sudut yang tepat menyinari lengkung pipimu. Tak lupa, guratan semangat dari wajahmu yang senantiasa menjadi cahayaku, dulu.

Momen ini, ketika tersirat dalam benak seorang sutradara empatis, dimulai dengan suatu bayangan yang buram, zoom-in kearah jemari yang menari diatas papan kunci. Diiringi musik yang terasa manis, tapi terdengar pahit, dari sebuah speaker di sebelah asbak. Temaram lampu ruangan kala itu, hanya ditemani putihnya asap rokok. Kamera itu berputar mengelilingi si penulis, mulai fokus ke wajah si penulis ketika lagu pengiring mulai mencapai bagian bridge. Kamera diam sejenak, memberi kesempatan pada bibir yang menggigit rokok itu. Dengan wajah penulis yang tak memperdulikan kamera, matanya memandang layar monitor dengan penuh keseriusan, seakan hanya detik itu yang tersisa untuk menulis kenangan ini. Lalu lagu mulai mencapai akhirnya, fading-out. Penulis tadi menunduk perlahan, meneteskan air mata yang sempat tertahan, kemudian ia berjalan ke arah jendela ruangannya. Bersandar, matanya mencari cakrawala yang tercipta di sebelah barat. Dibalik gedung biru yang memantulkan cahaya lembayungnya. Ia tatap cakrawala itu. Dalam hatinya, terucap,
Rabbana ma khalaqta haazhaa baathila, subhaana faqinaa azaaban-nar.”
Mata merahnya terpejam, namun hatinya tersenyum.

fading-out
Kamera berputar dari barat ke timur, kemudian menjauh.

Malam Ini

3 thoughts on “Malam Ini

  1. Semoga ayat itu dapat juga terucap ketika manusia sedang terkena kesusahan, sebagai penawar duka.

    Dan semoga ayat itu dapat juga terucap ketika manusia sedang merasa bahagia, sebagai penawar lupa diri.

    Kalo bahasa Inggris nya :
    “If it doesnt kill you, it only makes you grow…”

  2. “If it doesnt kill you, it only makes you grow…”

    aahhh ini kata2 yang gue cari selama ini… gue cuma ngarti pake bahasa betawi doang, yang gue bilang: “ah kagak bikin gue mati ini…”… huhuuhu

    *gue ga komen postingnya, tapi komennya huehehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s