Dia Bilang Dia Suka Baca Tulisan Ini

Sejuta makna implisit sebaiknya tidak pernah dirubah menjadi eksplisit. Sehingga pemaknaanmu akan kata yang terucap menjadi lebih bebas. Ketika kamu bilang kamu suka tulisan ini, sedia kalanya kejujuran yang seharusnya tertulis, menjadi kesemuan yang sengaja dibuat untuk menyenangkanmu. Sungguh pun, itu hal yang akan selalu kuhindari. Karena, sedari dulu hukum alam berkata, menulis kejujuran tentang keindahan cahaya mata harus dengan kejujuran keindahan cahaya hati.

Ah, begitu sulitnya menjelaskan suasana hati saat ini. Detik yang ada sekarang ini, sengaja tercipta untuk membentuk suasana hati yang bahagia. Mengiringi nyala semangat untuk kembali menulis. Menulis kata-kata penghargaan untuk dirimu yang berdiri tegak melemparkan kayu bakar dari jauh, kepada nyala api yang mulai meredup. Kemudian kata-kata itu seperti senyawa udara, yang terus menghembuskan oksigen untuk membakar kayu tersebut. Perlahan-lahan, asap-asap sisa pembakaran itu pergi meninggalkan jalinan kayu yang mulai terbakar tadi, seperti seorang penulis yang membuang semua prasangka jelek tentang tulisannya. Ironis memang, nantinya kayu itu terbakar habis, menjadi debu yang tak berguna. Tapi bagiku, lebih baik melihat makna dari nyala api yang menghangatkan jiwa. Memaknai kenyataan bahwa pelaksanaan dari kata-kata itu lebih berat ketimbang berkata-kata itu sendiri. Atas dasar itulah pemaknaan tadi mampu mengangkat derajat debu itu kepada tempat yang terhormat dalam hati, sebagai zat nyata yang membangun kembali mimpi-mimpi yang sempat terhapus.

Dasar manusia, semakin lama menulis, imajinasi ini semakin pergi menjelajah ke relung antah berantah dari otak ini. Menyenangkan. Menghidupkanmu dalam tiap partisi yang ada di sel-sel otak ini. Mewarnainya. Sedemikian hingga, gradasi warna mimpi itu dapat teresolusi dengan baik. Menghabiskan memori yang tersisa. Karena tak ada gunanya lagi menyimpan memori yang ada. Saat ini, aku hanya ingin berada disini, dan tak ingin pergi.

Kemudian, sang angin berkata pada putik bunga yang terbang bersamanya.
"Aku tidak bisa terus mengangkatmu terbang.
Tempatmu bukan di langit.
Kamu harus turun, di tempat dimana aku tak sanggup lagi membawamu.
Dimanapun itu, kamu harus tetap tumbuh dan berkembang menjadi bunga yang mengharumkan asal-muasalmu.
Itulah alasan mengapa Tuhan menciptakanmu."

Dia bilang dia suka baca tulisan-tulisan ini.
Aku bilang … aku tidak sanggup bilang apa-apa. Tersenyum dan berlalu.

"Tuhan, beri aku kekuatan supra natural, untuk mampu menarik dirinya untuk duduk disini, disisiku, membantuku mewarnai detail indah mimpiku.

Kalau dia gak mau, tolonglah, PAKSA DIA"

Dia Bilang Dia Suka Baca Tulisan Ini

8 thoughts on “Dia Bilang Dia Suka Baca Tulisan Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s