[Seri Biografi] Munir Said Thalib

Ini kali, saya tidak ingin menulis tentang cinta, wanita, dan sekitarnya. Serta tidak ada kata-kata yang manis. Dalam satu perbincangan elektronik, saya tunjukkan puisi saya (Selamat Pagi Tuan Putri!), pada teman saya. Dia bilang, “Kok lo nulisnya tentang cinta terus seh?”. Wah, memang semua tulisan di blog ini, tidak ditemakan tentang cinta, ide awalnya cuma ingin menulis tentang refleksi dan pemodelan balik (What is an Inverse Problem?) atas apa yang saya alami sehari-hari. Adapun, ketika tertuang dalam bentuk tulisan bertema cinta, mungkin refleksi yang terjadi dalam beberapa saat kebelakang, memang bertemakan cinta.

Untuk itu, mari hari ini kita bicara sedikit tentang hal yang sangat sakral di kalangan mahasiswa, AKTIVIS. (kesempatan pertama untuk muntah, dan terakhir untuk pindah website, sebelum lanjut ke tulisan utamanya)

Seminggu ke belakang, saya banyak browsing artikel-artikel di Wikipedia. Entah kenapa, memang dari kecil dulu, saya suka sekali baca ensiklopedia. Beberapa artikel menarik yang saya baca di Wikipedia antara lain informasi tentang Asterix dan Desa Galia, Sejarah Indonesia terutama medio awal-awal kemerdekaan. Tidak terkecuali artikel, tentang tokoh-tokoh aktivis kemanusian. Yang terakhir ini yang ingin saya resumekan dalam tulisan kali ini.

Munir Said Thalib
Wikipedia Link : http://en.wikipedia.org/wiki/Munir
Official Site : Seeking Truth and Justice : http://www.munir.or.id


Dikenal dengan nama Munir, seorang aktivis HAM Indonesia, pendiri LSM Kontras. Beliau lahir pada tanggal 8 December 1965, beberapa bulan setelah tragedi kudeta di Indonesia. Beliau menikah dengan Suciwati, memiliki dua orang putra-putri, bernama Alif (7 tahun) dan Diva (4 tahun).

Sejujurnya, saya tidak begitu mengikuti berita tentang beliau, kalaupun saya tidak salah klik link di Wikipedia, mungkin saya tidak akan pernah tahu kalau beliau pernah dianugerahi Right Livelihood Award. Sebuah penghargaan yang dianugerahkan kepada mereka yang aktif dalam mencari solusi dari permasalahan yang sangat urgent saat ini. Dimana permasalahan tersebut antara lain berada pada bidang HAM, Penjagaan Lingkungan Hidup, Kesehatan, Pendidikan, dll. Beliau meninggal karena diracuni, hal ini diketahui setelah dilakukan otopsi oleh the Netherlands Forensic Institute. Dalam otopsi tersebut ditemukin senyawa sejenis arsenik yang kadarnya 3 kali lipat dari kadar standar yang dapat membunuh nyawa seseorang.

Beliau dikenang, sebagai pejuang HAM, dan saya rasa memang beliau pantas disebut seperti itu. Pertanyaan sekarang, jika kita meninggal dunia, kita ini akan dikenang sebagai apa? Apa yang telah kita lakukan selama kita hidup? Atau yang lebih ekstrim, pantaskah kita dikenang?

[Seri Biografi] Munir Said Thalib

4 thoughts on “[Seri Biografi] Munir Said Thalib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s