Pagi, Hujan, dan Senja

Dan matahari pun belum muncul, ketika hujan sudah memberikan perlawanan di awal hari ini. Cuma satu hal yang bisa dipaksakan dalam kondisi seperti ini, pergi kembali ke tempat tidur, melanjutkan mimpi tentang dirimu tadi malam. Tuhan memang adil, ketika kita hampir sampai di klimaks mimpi kita, maka sampai pula jarum pendek itu ke angka 5. Puncak mimpi itu diikuti oleh dering alarm. Menggangu? Bagiku tidak. Karena malam nanti akan kutemui kamu lagi dalam mimpi indah yang sama, tentunya dengan cerita yang beda. Karena cuma dalam mimpi, manusia dapat berpikir bebas. Imajinasi diriku dan dirimu dalam mimpi itu seperti derasnya hujan pagi ini yang memaksa semangat para pekerja untuk tetap berada di tempat tidurnya. Ia tidak mengenal perlawanan.

Shall I compare thee to a summer’s day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer’s lease hath all too short a date:

Tidak. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kehangatan musim panas. Dimensi kehangatan tatapan matanya lebih agung ketimbang dimensi fisis kehangatan matahari. Tatapan yang kemudian menjadi alasan, kenapa seorang bayi tidak pernah menyerah saat terjatuh pada waktu pertama kali belajar berjalan. Lalu dia menjadi alasan bagi seorang Ayah untuk meninggalkan anak istrinya di pagi hari, menuju kenyataan pahit kehidupan yang penuh ketidakjujuran.

Kembali kutemui Ia, di penghujung hari, saat pertemuan matahari dan bulan. Sedikit cahaya kemerahan menjadi latar warna pada detik itu. Hujan masih meninggalkan bekas di dedaunan. Titik-titik sisa hujan itu bertemu dengan ujung jarinya. Sambil berjalan perlahan, Ia pergi menjauh, menuju titik perspektif senja.

Even if I’m invited by the brilliant wind
I’ll still keep following after you in my dreams
And even now, the sky in its downpouring blue
I look up and it wraps me up

Akhirnya malam telah datang, rangkaian hari ini telah selesai. Detail bayanganmu di sepotong senja, lengkap dengan lembayung dan desau angin, telah terekam dalam tiap neuron otakku. Maaf, jangan pernah kamu minta itu untuk dihapus. Maaf sekali lagi, jangan pernah Anda mencoba mencurinya. Ia, hanya menjadi milikku, meski dalam imajinasi fiktif.

Dan malam kembali menguasai dunia.
Aku kembali terlelap dalam mimpi-mimpi.

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut
rahasia demi rahasia, yang tak putusputusnya
bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
Selesai mendoakan keselamatanmu.


  1. [1], diambil dari Sonnet XII, oleh William Shakespeare, dicuplik dari transkrip naskah film Dead Poet’s Society
  2. [2], diambil dari lirik lagu, L’arc n ciel, judulnya Flower, ditranslasi ke bahasa inggris oleh [doh lupa namanya, ini linknya ]
  3. [3], diambil dari puisi Dalam Doaku oleh Sapardi Djoko Damono
Pagi, Hujan, dan Senja

3 thoughts on “Pagi, Hujan, dan Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s