Pertama!

Kemarin sore, matahari terasa terbenam lebih cepat. Dan beberapa hari ini, seakan-akan cuaca memaksa tiap manusia untuk tidak meninggalkan tempat teduhnya. Memang cuaca yang agak aneh ini terjadi sejak seminggu keberangkatan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit. Sudah sudah, jangan coba memikirkan yang tidak-tidak. Matahari tidak pernah bersekutu dengan bala tentara Syiwa untuk menurunkan murkanya ke dunia.

Seperti baru kemarin gadis kecil itu berjalan tertatih di pendopo. Merengek-rengek dihadapan sang Ratu. Menangis kecil. Melompat-lompat kegirangan. Kemudian berteman dengan malam yang menjaganya untuk senantiasa terlelap dalam mimpi indah. Ketika kecil Ia adalah cahaya mata sang Bunda. Kelak setelah dewasa Ia adalah permata Priangan yang tersohor hingga ke negeri seberang. Kini Tuan Putri harus pergi, atas nama persatuan Nusantara.

Bunda, Kenapa Hujan Tidak Turun Merata?
Dalam satu sore, di ujung pendopo, sang Putri bertanya kepada Sri Ratu,
“Bunda, kenapa hujan tidak turun merata?”
Agak samar memang aku mendengarnya, tapi suara manja gadis kecil itu seperti memiliki malaikat yang menyebar untuk mengetuk gendang telinga orang yang berada disekitarnya.
“Itu karena Tuhan adil nak, di satu sisi diberi berkah agar kita selalu mensyukuri dan tidak sombong. Di sisi lain tidak diberi agar kita selalu berusaha”, jawab sang Ibu.
“Kalau Tuhan memang adil, mustinya semua orang bisa bahagia?”, bantah Putri Dyah Pitaloka.
“Anakku, pohon semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Lautan semakin dalam, semakin gelap dia. Semakin dekat dia dengan Tuhan maka semakin berat juga ujiannya”, lanjut Bunda
“…, maksud Bunda”,
“Nak, keadilan bukan pemerataan segala sesuatu …”
“eng …”, termenung, entah paham atau tidak apa yang diceritakan Sri Ratu.
“Kelak ketika kau dewasa, dan mendampingi penguasa Sunda Galuh ini, engkau akan mengerti.”

Cahaya Mata
Masih dari kejauhan, aku terus memandang tak berkedip. Saraf-sarafku tak mampu menerjemahkan gambaran yang diterima oleh retina mata ini. Pengaruh aura sang putri terasa lebih kuat. Dimensi yang jauh berbeda dengan dimensi yang umum diterima mata. Lama kemudian saraf-saraf itu mulai melemah, dan satu persatu mulai meneruskan sinyal-sinyal yang masuk ke dalam hati.

Sekiranya ada hal yang lebih hebat dari otak dalam urusan interpretasi dan optimasi sinyal-sinyal yang aneh, pasti hanya hati. Sayangnya, Ia terlalu dikuasai perasaan. Kadang optimasinya menjauh dari akal sehat, meskipun solusinya konvergen. Seperti untuk kejadian saat ini, kenapa sinyal itu ia terjemahkan sebagai kasih sayang.

Menggapai bintang, bukanlah hal yang sulit untuk mereka yang tinggal dalam gugusan langit. Tapi bagi kami para penduduk bumi, bintang hanya bisa kami pandang. Diabadikan di posisi paling dalam di jiwa. Ketika ia menatap kami, hati kami menjadi terang benderang. Apalagi ketika ia berbicara pada kami, detik-detik tutur suara yang tersampai seperti menggeser posisi matahari.

Kami yang duduk dalam tataran primordial langit dan bumi, yang terposisikan di bawah langit, berdiri dibawah payung keteduhan awan, hanya bisa memandang dan mengagumi sang putri. Namun, ketika malam sudah menggelap, dan para Ksatria Langit tak mampu lagi melindungimu sang putri.
“Kamilah yang pertama!”
Yang berangkat dari bumi yang paling dalam, telah terbentur oleh batuan yang paling keras, telah terkungkung oleh ruangan tanpa cahaya sedikitpun. Kami yang bertingkah dengan sedikit asap di jari kami, yang tidak mengenal teknologi perapih diri. Kamilah yang pertama! memapahmu ketika kamu tak mampu berjalan, berada di depanmu ketika anak panah bergerak tepat menuju kepalamu.
Kami yang pertama mencium kesedihanmu, menghisapnya untuk segera pergi dari senyumanmu.

Sayang, sebelumnya, kami harus mengalahkan Ksatria Gugusan Langit!!!

Palagan Bubat
Langit berkata, “Tuan Putri jangan pergi”.
Aku masih terdiam duduk, tanpa bisa apa-apa.

Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

Ingin aku pergi ke Tegal Bubat, berada disisimu, menjadi orang yang terakhir berdiri.

Pertama!

6 thoughts on “Pertama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s