Dalam Tiap Pixel Gambar Diri Kamu

Pixel, kalau dia tersusun untuk merancang gambar kamu, hasilnya melebihi kumpulan pixel biasa. Tiap amplitude dari pixelnya memberikan aura tersendiri, seperti menunjukkan keterjagaan akan kejujuran yang potensial tercipta. Kemudian, tiap pixelnya memiliki kekuatan untuk merekonstruksi detail keindahan yang terbentuk, dan kemampuan menjaga rentang frekuensi seperti keadaan aslinya.

Saya pun coba bertanya pada diri saya, “Dulu waktu Mick Jagger bikin lagu She’s a Rainbow, apa gara-gara dia liat gambar kamu juga yah?”. Ah, sepertinya tidak, pelangi tidak pernah jujur dan tidak pernah abadi. Dia cuma mau muncul, setelah bumi diberi kesegaran air hujan dan kehangatan cahaya matahari. Lalu dia pergi, ketika malam menunjukkan kekuasaannya atas bumi. Apa kamu juga seperti itu? Pergi ketika malam mulai mencekam, atau kamu yang membuat malam-malam ini semakin mencekam. Entah, cuma saja, sampai saat ini, kamu adalah valium penenang, saat mata tak mampu memejam dan akal sehat dikuasai oleh hati.

Interpretasi atas warna yang muncul dari gambarmu, mungkin berkisar antara keceriaan, senyum, sedikit gundah, ekspresi untuk menyatakan kebebasan diri sebebas-bebasnya, atau bahkan kelemahan hati yang coba kamu tutup-tutupi. Sudahlah, interpretasi tidak akan pernah berarti, sebelum barangnya muncul kepermukaan. Apa yang aku lakukan cuma ingin memenuhi isi kepala ini dengan warna yang ada dari diri kamu. Sadar atau tidak sadar, bagi saya, saat ini, yah SAAT INI, kamu hanya penenang.

Keinginan dan ketulusan hati cuma bisa terjawab seiring dengan waktu, dan perulangan atas apa yang pernah dilakukan Sisifus. Hanya saja, dalam sejarah kali ini berbeda, di masa depan nanti, Sisifus yang bodoh, berubah menjadi lugu, kemudian coba melihat ke belakang, menangisi dan menyesali yang pernah terjadi. Dan Zeus pun menampar Sisifus hingga setengah mati. Dalam sisa-sisa nafas terakhir, dihancurkan batu yang telah Ia bawa ke puncak bukit, agar batu itu tidak pernah jatuh lagi ke bawah. Ia hancurkan batu itu, hingga kepingan terkecil, kemudian Ia hadapkan dirinya ke 8 arah mata angin, dititipkannya kepingan tersebut melalui paruh-paruh gagak yang Ia jumpai sebelumnya,
“Katakan pada dunia, Aku telah berada di puncak, batu mana lagi yang aku harus bawa, puncak mana lagi yang harus aku daki. AKU MAMPU!”

Dalam segenap amarah yang terkumpul di otaknya, Ia acungkan kepalannya pada Zeus,
“Bencana macam apa lagi yang tersisa untuk kau timpakan padaku, AKU TAK PERNAH TAKUT!,
Aku tahu, dalam catatan sejarah yang pernah dan akan terjadi, MANUSIA BISA MERUBAH TAKDIRNYA, JIKA IA BERUSAHA!”.

Zeus pun tersenyum, kembali Ia ambil petirnya, dihantamkannya ke kepala sisifus. Tak sampai sekejap mata, Sisifus yang bodoh dan lugu, menutup kisahnya, ketika Ia telah membuktikan konsistensi kebodohannya dan baru saja memetik keindahan atas kesalahan yang pernah Ia lakukan.

Ah, sudahlah, Zeus, Sisifus, Kamu, Saya, sudah terlalu banyak imajinasi yang tercipta. Semoga sedikit saja imaji indah menjadi kenyataan.

Dalam Tiap Pixel Gambar Diri Kamu

3 thoughts on “Dalam Tiap Pixel Gambar Diri Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s