18 Seconds Before the Sunrise

Sepertinya benar, bagian malam yang tergelap adalah beberapa saat sebelum fajar menjelang. Tak hanya bagian yang paling gelap, tapi juga paling dingin dan paling sepi. Bertolak belakang dengan senja yang terasa hangat, yang menemani setiap manusia untuk pulang ke peristirahatannya. Bukankah itu berarti keadilan Tuhan. Maka, tak ayal, ada berjuta makna implisit dibalik beberapa jam sebelum fajar, dan beberapa jam setelah matahari tenggelam.

Suatu sore yang indah mungkin diwarnai derai canda tawa, yang nyata. Penghujung malam yang dingin mungkin berwarna gelap, segelap kenyataan pahit akan kehilangan. Di tengah itu semua terbentang beberapa jam yang ditulisi oleh kenangan. Yang, ketika coba ditulis dalam sebuah buku, entah tinta mana yang mampu menggores berjuta kenangan itu. Baik hitam, putih, emas, merah, canda, tawa, air mata, darah, dingin, kesal, kangen, rindu. Mungkin juga jenis-jenis perasaan yang kita tak pernah tau bentuknya. Perasaan yang muncul ketika, kita rela meminjamkan jaket kita, di tengah hujan, ditengah motor yang melaju agak cepat.

Ketika malam semakin dingin, dan tak ada kalori lagi yang tersisa untuk dibakar. Tanya pada dirimu, apa yang kau harapkan selain kehangatan matahari pagi? Ketika mata tak sanggup memejam, setelah sekian titik air mata yang keluar, tanya pada dirimu, bukankah cuma senyuman Ia yang kau harapkan.

Lalu, ketika matahari tak pernah muncul, dan senyuman itu tak pernah ada, apa yang kamu mau? Memaki Tuhan ato kembali menangis? Atau, berlari dari kenyataan, yang kau anggap itu lebih gentle?

ah sudahlah, kata hatimu tak pernah sinkron dengan isi otak kecilmu! Hasrat memilikimu tak pernah seimbang dengan besar rasa cinta tulusmu.
Kamu masih muda, tak pernah tau artinya memberi tanpa memiliki, yang selalu kamu banggakan itu. Kamu masih muda, tak tau bagaimana melihat mana keabadian yang jelas mana yang semu.

Malam yang paling gelap akan berubah menjadi fajar yang hangat, ketika kamu mampu memandang keseluran rangkaian malam yang ada. Dan dalam 18 detik menjelang matahari terbit ini, pikirkan, jangan pernah berharap apa-apa. Hadapi, dan jangan lari.

kamu masih muda …

with compliment to Dian Ina on her wonderful writing (God of Small Things in Broken Hearts)

18 Seconds Before the Sunrise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s