Last Day of 2007

December 31, 2007

Ya, gw memutuskan gw harus nulis postingan terakhir 2007. Sekedar jadi cerminan dan bahan pengingat gw di tahun 2008. Ada satu kalimat yang gw baca di Al-Tanwir, sebuah buletin dakwah dari Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Muthahhari. Dari sebuah tulisan yang ditulis (ya iyalah!, masa tulisan di rendem!), oleh KH. Jalaluddin Rakhmat, beliau merujuk suatu riwayat, yang mana saya rupa riwayatnya begini. Kira-kira begini,

“Setan berkata pada manusia: aku heran pada kalian manusia, aku yang HANYA melanggar SATU perintah-Nya saja, diusir dari surga dan dikutuk sepanjang kehidupan kami. Sementara kalian SETIAP HARI melanggar perintah-Nya, tapi kalian tak pernah merasa takut akan siksa-Nya.”

Waktu berlalu, sedemikian harapan pun tumbuh dan kenangan pun berlalu. Semoga tahun depan kita terus meningkatkan diri kita menjadi manusia yang berguna.


Sore Itu, Di Belakang Halaman Rumah Kami

November 11, 2007

suatu hari nanti,

di belakang halaman sebuah rumah, ada anak kecil yang berlarian mengejar kupu-kupu, diantara rumput rumput yang sebisa mungkin dirawat, di pojok halaman belakang itu ditanami sedikit bunga-bunga. Mainan gelembung sabun yang sebelumnya dimainkan anak itu ditinggalkannya begitu saja di sudut dekat kran air. Sendal anak itu terbalik dipakai, yang kiri di kanan dan yang kanan di kiri, sehingga larinya sedikit oleng.

Sementara dua pasang mata, yang padanya terbentuk siluet bayangan dari balik jendela dapur yang menghadap ke halaman itu, seakan tak ingin menghilangkan satu dua detik tanpa mengamati anak kecil itu. Tersenyum. Piring-piring yang sedang dicuci, seperti dilanda kecemburuan, karena telah lama mereka dibiarkan kotor. Semenit mereka mencuci piring, lima menit kemudian terisi dengan pikiran kosong mengamati anak tadi.

Sore itu, setelah siangnya diguyur hujan, tiap-tiap titik sisa air hujan di rerumputan yang terinjak lelaki kecil itu, seperti menuliskan cerita-cerita. Cerita yang berjuang agar tiap hurupnya dapat selalu tertulis, sehingga paragraf demi paragraf dapat tertata rapi menjadi bab-bab, yang kemudian mengabadikan makna cahaya yang tak pernah terputus terbit di Timur dunia setiap pagi, atas keputus asaan belaian badai malam tadi. Cerita yang bermula dari satu paragraf harapan, berakhir menjadi buku yang tak pernah selesai ditulis dengan bahasa syukur.

Anak itu kemudian terpeleset, dan terjatuh. Tangisan kecil anak kecil tadi berujung pada tawa kami yang berduaan mengamati anak tadi dari balik jendela dapur. Sang Ibu, kemudian keluar mendekati anak itu, sambil menenangkan tangis lelaki kecil, yang padanya tertanam harapan, serta catatan harapan yang telah menjadi bukti kenyataan. Sementara aku, kemudian berjalan perlahan berdiri di batas pintu yang menghadap halaman, berpangku tangan. Tertawa kecil, melihat sang Ibu menggendong lelaki kecil yang kemanjaannya menimbulkan iri tersendiri di hatiku.

Sore itu, di sudut halaman rumah kami. Semoga Yang Maha Kuasa meridhoi tiap mimpi kami.


Bermain dengan Linux pada iPod

October 28, 2007

Tips dulu sebelumnya, kalo hari minggu, bangun rada pagi, pleaasee jangan coba-coba browsing hal-hal yang menarik tentang ngutak ngatik gadget, jadinya mungkin lo cuma ngabisinin seharian minggu itu dengan ngoprekin benda itu. Seperti yang gw lakukan hari ini. Gw coba ngutak ngatik firmware iPod, dari mulai diinstall ipodlinux sampe dengan rockbox. Gw cukupkan ngoprek ipod untuk hari ini dengan menulis posting ini, sebagai laporan praktikum oprekan minggu ini.

a. Pendahuluan,

Dimulai dengan membaca beberapa posting tentang memperdayakan iPod untuk main games, saya coba browsing sana sini. Ketemu games trivia yang kayaknya menarik, tapi ternyata gitu-gitu doang dari iPod Arcade. Walhasil ketemu posting dari situs yang memang sayang gemari, lifehacker.com. Dari artikel berikut, Hack Attack: Play games on your iPod for FREE, dijelaskan bagaimana menginstall games-games yang ternyata berjalan di atas linux yang di-embed ke ipod. * halah * bahasanya gak techie banget. Dari satu situs ke situs lain, dari satu session googling ke session lain, sehingga akhirnya jadilah saya nyobain ipodlinux dan rockbox :)

b. iPodLinux

Jadi begini, mohon para guru yang mengerti ttg linux embedded system membenarkan. Sistem operasi linux yang ada dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan microcontroller/chip iPod tadi. Sebenarnya iPod sendiri juga sudah memiliki sistem operasi sendiri. Sistem operasi atau program lebih tepatnya, yang di-embed, bahasa Indonesianya, yang ditanam (parah! diksi-nya) pada chip iPod tadi, sehingga kita bisa menambahkan beberapa program lain. Program ini memiliki istilah firmware. Inilah yang saya inginkan, bahwa iPod tidak hanya untuk memutar empetigo (MP3). Maklumlah PDA, gak kebeli. Atau bahasa yang lebih halus, mengoptimalkan kemampuan iPod. Jadi saya coba menginstall linux yang didesain khusus untuk iPod, iPodlinux.

iPodlinux ini terdiri atas kernel linux itu sendiri dan modul-modul tambahan. Seperti halnya kernel linux di komputer kita dan program-program tambahan seperti xmms, text editor, dan lan sebagainya. Dari situsnya disebutkan bahwa iPodlinux sampai hari ini stabil untuk diinstall untuk ipod generasi 1, ke 2, dan ke 3, singkatnya iPod-iPod generasi sebelum generasi iPod video. Silahkan klik ke halaman ini, Generation, untuk melihat tipe iPod yang disupport. Nah, kerana saya tidak begitu baik dalam membaca manual, saya dengan pedenya mau mencoba menginstall iPodlinux untuk iPod video 30gb saya, yang notabene merupakan iPod generasi ke lima. Sebenarnya seh wajar-wajar saja, toh dalam artikel di lifehacker tadi, penulisnya menyebutkan iPodlinux ini bisa diinstall dan cukup stabil untuk diinstall pada iPod generasi apapun, kecuali shuffle tentunya.

Untuk menginstall iPodlinux untuk iPod 30gig seperti yang saya alami, mungkin beberapa tips berikut bisa membantu,

  1. Kalo bisa iPod firmware bawaan Apple gak usah diupdate pake iTunes versi7. Karena Installer standar iPodlinux kayaknya gak kompatibel dengan iPod software versi baru.
  2. iPodlinux memiliki installer bawaan yang cukup membantu, dari mulai membackup software ipod kita (data mp3 kita harus dibackup secara manual), yaitu Installer2.
  3. Kalo memang iPod generasi 5 anda tidak disupport oleh installer official tadi, silakan merujuk ke halaman ini, 5G, dan ada beberapa cara untuk menginstall ipod linux melalui linux itu sendiri, silahkan merujuk ke artikel ini, How to: install ipodlinux on your ipod.

    Kalau Anda menggunakan windows, anda bisa menggunakan ipodlinux_manager, bisa didonlot melalui link berikut, iPodlinux_manager.

c. Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, saya berhasil menginstall iPodlinux dengan menggunakan ipodlinux_manager. Setelah berhasil diinstall, saya booting, dan agak senyum juga melihat, baris informasi booting khas linux yang kini muncul di layar ipod. Tampilan utama dari ipodlinux ini adalah podzilla yang mirip dengan ipod software bawaan apple. Meskipun kadang merasa bete juga ada beberapa fitur yang masih menghasilkan fitur segmentation fault.

Instalasi nya masih belum stabil, dan masih banyak yang harus dibenahi. So far, saya masih sariawan ni dengan menginstall linux di iPod.

d. Penutup

Demikian, review ttg rockbox disambung pada posting selanjutnya ajah. :( capek


Review Subjektif Film: Get Married

October 15, 2007

Okeh, sebelum saya memulai, saya ingin mengakui kesedihan dan keprihatinan yang saya alami. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada pergi nonton hemat sendirian di salah satu bioskop di Jakarta yang dipenuhi oleh para abegeh, dan ketika beli popcorn, kasirnya bahkan tak mau melihat lo sedikitpun. Life sucks, anyway. Gw gak tau mau masukkin film yang gw tonton sebagai nilai tambah atau nilai kurang dari kepedihan yang gw alami hari ini, gw nongton Get Married, pelemnya Nirina Zubair, yang kesekian.

Ekspektasi gw sama film ini memang cukup tinggi. Pertama karena, ini film komedi, diantara film Indonesia yang kayaknya itu-itu aja sekarang. Iklim film kita gak berubah, masih tetap berhembus ke arah film horor. Dan film romantis, ataupun film drama yang beberapa bulan beredar, tidak terlalu menarik perhatian gw. Kedua, apa yang lo harapkan dari 4 hari cuti, dan gak ngelakuin apa-apa kecuali ngurus kerajaan lo di Warbook. Jelasnya, lo mengharapkan kehidupan sosial yang nyata. Setidaknya gw mengharapkan suasana sosial. Jadilah gw pergi ke Djakarta Theatre, berharap bisa mendapatkan hiburan sosial atas hidup asosial gw beberapa hari belakangan ini.

Film “Get Married” ini disutradai oleh Hanung Bramantyo, which is, kalo gw ga salah beliau juga yang menyutradarai Jomblo. Jadi ketika film ini mulai, dan ada beberapa animasi, mulailah mungkin lo ngerasa ni film mirip sama Jomblo. Kisahnya, tentang 4 anak manusia, 2 lelaki, 1 wanita, 1 lagi apa yah? (aming jenis-nya apa oi?, heheh, heureuy atuh Ming). Lucu di awalnya, yah, secara pemaennya Desta, Ringgo, sama Aming, plus Nirina yang memang kayaknya cocok jadi peran cewek tomboi, daripada peran cewek serius kayak di film Heart.

Tapi yang jadi concern, dan ngejatuhin mood gw ketika gw nonton ni film, adalah jalan cerita pas di akhir-akhirnya. Beserta dialog-dialog yang gw ngerasa sangat tidak nasionalis. Ketika si Bob, anak buahnya si Rendy, bawa temen-temennya anak kompleks untuk bales serang ke anak-anak kampungya si Mae (Nirina), dia ada bilang,
“Lo seh, dah kelamaan di State. Lo lupa cara Indonesia”

Sakit hati gw dengernya, bangsa gw direndahin kayak orang Barbar, dan dibandingin bahwa cara di United States, lebih demokratis dan manusiawi. Please deh!!!! Tawuran itu cara Indonesia? gak banget!

Dah itu aja yang gw mo tulis, abis denger adegan itu, gw langsung pengen pulang, gak menarik lagi tuh film bagi gw.


Maling di Kampung Saya

October 6, 2007

Mengejutkan. Belum 5 menit saya berbaring menarik napas setelah sebelumnya kuliah Well logging, terdengar teriakan di gang depan rumah saya, “Maling-maling”. Saya keluar rumah dong, biar kerasa eksis di lingkungan sini, eh gak jauh dari mulut gang rumah saya, si maling tertangkap. Dan beberapa pukulan mendarat di wajah maling tersebut. Ia maling saat itu, dan mungkin tidak di lain waktu. Perawakannya kecil. Tak sempat saya melihat dengan jelas bagaimana wajahnya saat itu, pun tak sempat pula saya tahu apa yang Ia malingi.

Yang lebih bikin saya terkejut lagi sebenarnya bukan keberadaan curi mencuri tersebut. Tapi psikologi dan kondisi lingkungan sosial sekitar kita, apalagi di daerah Jakarta, apalagi di perkampungan Jakarta seperti daerah rumah saya ini, sudah mulai beringas. Mulai banyak pencurian, mulai banyak pemukulan, dan merokok di gang jalan sudah mulai wajar di bulan Ramadhan ini, meskipun di gang sebelah ada Masjid yang cukup besar. Di pojokan jalan, pemuda yang baru memasuki usia produktif, banyak yang nongkrong kagak jelas juntrungannya. Menjadi Tukang Ojek dan ngetem seharian di ujung gang, adalah profesi yang sangat diminati, entah apa yang salah dengan menjadi tukang sapu yang lebih berusaha keras mengeluarkan keringat daripada duduk nongkrong dan ngopi di warkop ujung gang.

Dulu, menjelang lebaran seperti saat sekarang ini, waktu saya masih tinggal di Bekasi, saat-saat berkunjung ke rumah nenek ini adalah saat yang menyenangkan. Kala itu, temen-temen masa kecil saya masih banyak, seperti biasalah, musim lebaran, tanggok sana-sini, ngumpulin 500-an baru. Kami yang masih kecil hormat kepada yang tua, dan yang tua menyayangi kami yang masih kecil. Suasana di lingkungan saya masih terasa lengang, belum padat seperti sekarang ini. Friksi, aduh, sepertinya belum dikenal saat itu. Meskipun tidak jauh dari lingkungan sini, terdapat daerah yang mulai terjangkit penyakit masyarakat seperti miras, madat, dan lain sebagainya. Sehingga kehangatan sebuah masyarakat yang damai terasa dengan jelas saat itu.

Menilik dari suatu hal yang kecil di lingkungan kecil sekitar saya, mungkin merupakan model yang valid untuk memandang perilaku masyarakat di Jakarta secara umum. Kondisi ekonomi yang kian berat, memaksa terjadinya gesekan antar kelas semakin tajam. Meraka yang berada di kelas bawah tak sungkan untuk menodong, merampok mereka yang ada di kelas atas. Dan mereka yang berada di kelas atas pun tak pernah sudi meluangkan sedikit rezeki mereka untuk meraka yang masih dibawah. Garis pemisah semakin lebar, dan semakin tebal. Bukan kesenjangan yang saya takutkan, tapi ketika rasa iri akan kemapanan seperti yang kita lihat sehari-hari di sinetron, tanpa adanya kesadaran untuk berusaha keras, menjadi hal yang mendorong naluri manusia menjadi naluri yang bukan manusia.

Terlepas dari semua kesenjangan, kemenurunan kondisi sosial masyarakat di kita, pasti masih terselip sedikit senyum diantara anggota masyarakat untuk tetap saling bergotong-royong * doh berasa tahun 1995 ajah *, membangun masyarakat yang hangat. Kita harus yakinkan itu kepada diri kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 1428 H, semoga masyarakat kita menjadi masyarakat yang saling menyayangi satu dengan lainnya.