Happy Birthday
July 11, 2008Dapet E-Cards dari AC Milan.com, secara eike kan milan fans sejati gituh loh

inverse modelling of my life
Dapet E-Cards dari AC Milan.com, secara eike kan milan fans sejati gituh loh

Kenapa kita gak demo tentang,
1. Perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan transportasi publik, sehingga banyak konsumsi bbm untuk mobil pribadi dan motor pribadi mungkin bisa dikurangi. Sehingga, kita tidak usah mengeluh untuk ngeluarin 30-40rb rupiah untuk full tank motor supra. Semoga saja kalau transportasi publik sudah benar-benar membaik, dan bbm untuk transportasi publik benar-benar disubsidi untuk yang membutuhkan, insya Allah, mungkin ongkos sehari kita cukup ngeluarin Rp. 3000 rupiah bisa bolak balik Sudirman sampe Pulo Gadung.
Transportasi publik ini termasuk, transportasi untuk mengangkut bahan sembako, sehingga para pengusaha sembako dapat mengontrol harga untuk tetap masuk akal bagi kebanyakan rakyat.
2. Kalau memang produksi gas kita lebih tinggi dari pada oil, dan pengolahan gas kita lebih baik daripada pengolahan minyak kita, kenapa gak kita coba bantu Pertamina dengan program subtitusi minyak tanah dengan gas. Tentunya, yang perlu diperhatikan adalah oknum-oknum yang mencari celah kesempatan dalam kesempitan. Karena kebutuhan akan gas meningkat, maka mereka seenaknya maenin harga, ngebikin tabung gas asal-asalan, dan lain sebagainya. KEPARAT LAH KALIAN YANG MAKAN TULANG BANGSA SENDIRI!
3. Tambahkan lapangan pekerjaan. Nah ini yang sulit memang. Amerika Serikat dikala resesi, katanya mencoba membangun fasilitas publik yang membutuhkan tenaga kerja yang banyak, contohnya bendungan, sehingga banyak orang yang bisa mendapatkan pekerjaan (tolong bantu kasih refrensi ttg cerita ini dong, thanks). Kalau di Indonesia, aga k susah juga. Tapi intinya, lapangan pekerjaan banyak. Dan ga cuma di Jakarta.
Duit BLT kayaknya bisa dipake buat gaji mereka, 300rb perbulan, mungkin ditambah tips mereka bantu-bantu di mana gitu, cukup untuk makan sekeluarga, insya Allah.
4. Demo ttg persatuan bangsa yang gak pernah utuh. Kenaikan harga bbm, malah dijadikan senjata oleh lawan politik sby. Demi 2009 katanya mah. Sekian ribu orang pinter, intelek, sarjana, doktor, dan lain sebagainya di Indonesia, insya Allah bisa duduk bareng, dan menyelesaikan masalah kita ini.
Ya sekali lagi, saya cuma masyarakat yang kerja di Jakarta, bayar pajak, ikut susah-susahan cari makan seperti Anda. Ketika orang yang di samping kita tidak mampu berjalan tegak, kenapa gak kita bantu dia berjalan tegak. Ketika orang yang memimpin kita di barisan depan, gundah akan keputusan dan langkah-langkah yang akan diambil, kenapa ga kita bantu dia dengan beberapa pendapat positif kita, dan coba mengingatkan dengan cara yang positif apabila pendapat-nya salah. Toh, dia yang memimpin kita bukan malaikat. Kalau ada orang yang dalam barisan kita, aga sedikit nyeleneh, kenapa gak kita ingatkan dia untuk bersama rapatkan barisan.
Pada akhirnya, kita sama-sama masyarakat Indonesia, diwarisi kemerdekaan oleh para masyarakat Indonesia yang dulu susah payah ditindas untuk tanam paksa. Mereka mengajarkan persatuan dapat membuat mereka kuat untuk mengusir penjajah. Kini penjajah sudah tak ada, apakah pelajaran dari mereka juga kita buat tiada?
Insya Allah, kita kuat melawan badai ini.
Sesuai dengan tanggal hari ini, hari Kebangkitan Nasional Indonesia, 20 Mei 1998, tepat 100 tahun setelah berdirinya Budi Utomo. Sebuah organisasi kerakyatan (CMIIW). Dari sinilah berawal kebangkitan Indonesia. Lalu setelah 100 tahun bangkit, 63 tahun merdeka, 10 tahun reformasi, dan entah berapa macam angka sakti lagi, yang pasti tidak pernah ada yang bertanya berapa angka yang ada di kantong kita? Berapa sisa hutang yang masih kita punya?
Entah, apa yang dimaksud dengan bangkit, ketika kita rakyat Indonesia merayakannya dengan hura-hura. Sementara di pojok Jakarta, seorang guru menjadi seorang pemulung (klik disini http://www.kickandy.com/corner.asp?page=6), guru yang membuat kita menjadi pintar terbentur kenyataan hidup bahwa Ia harus memulung sampah untuk menambah penghasilannya. Sementara di etalase kemewahan Jakarta, para ABG petantang-petenteng dengan HP seri terbaru, dan kartu kredit bapaknya, mencoba mencari eksistensi diri yang tertutup gengsi dan kebodohan otaknya.
Bagaimana menurut Anda? Dedy Mizwar dalam satu bait puisinya yang hari ini saya saksikan dalam iklan yang tak sengaja saya selihat selagi menikmati Ayam Pop (dapat dilihat disini http://nenyok.wordpress.com/2008/05/20/bangkit-itu/),
Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu malu, teman. Tapi sayang kita tidak pernah malu. Dan tak punya malu, tapi selalu mengagungkan kemaluan. Sedemikian hingga kemaluan yang senantiasa dibesar-besarkan lebih besar dari kapasitas otak kita sendiri dalam berpikir. Otak kita terbentuk dalam satu tatanan kebodohan terstruktur akibat program pembodohan terstruktur pencarian bakat menyanyi di televisi yang run-time acaranya dari jam 6 magrib sampai jam 12 malam. Sementar buku pelajaran tetap ada di kantong tas kita tanpa pernah kita buka kembali setelah pergi ke sekolah yang melelahkan.
Daku Ingin Kepal Tangan Ini
Menunaikan Keanggunan
Putra Bangsa Yang Mengemban Cita
Hidup Dalam Kesatuan…
lagu: berikbarlah
(disadur dari http://playmp3.saktilindo.biz/2008/01/13/berkibarlah-bendera-negeriku/)
Kiranya bagaimana mengepal tangan, ketika lapar telah menjerit. Bukan laparku kawan, bukan lapar kamu juga, tapi lapar anak-anak penerus bangsa ini, yang orang tuanya tak mampu membeli makanan, ketika laba menjual gorengan hanya cukup untuk membeli minyak goreng dan terigu lagi. Bapaknya tidak pernah mengenal kata lapar, tapi hatinya tak habis menjerit, demikian juga hati kita, ketika kita menyadari bahwa uang yang kita dapatkan habis di mall, membeli sebuah baju seharga 50 dollarlebih sementara harga beras mungkin hanya 0.01 % dari penghasilan kita, sementara meraka mencuri uang Rp. 2500 untuk membeli bola plastik dan bermain di lapangan parkir kita.
Bukankah itu sebuah ironi?
Dalam kesadaran kepolosan hati ini, aku menuliskan ini untuk sekawan bangsaku. Bersama maafku atas usahaku yang hanya sekecil ini dalam membantumu. Aku tahu, tenaga dan keyakinanmu untuk berjuang demi kebaikanmu dan bangsamu lebih besar dari sekedar rasa kasihan orang sekitarmu, pun rasa simpatiku. Satu hal yang mungkin bisa kamu pegang, kamu tidak sendiri, kami bersamamu dalam segala bentuk yang kami bisa.
Indonesia lebih baik ditangan kalian yang memakan nasi dari tanah kalian sendiri, bukan memakan kentang hasil francise negara lain. Indonesia lebih baik di tangan kalian yang memandang langit dari lembah terdalam nusantara, kemudian pergi ke puncak tertinggi di nusantara menahan matahari untuk menyinari kesuburan tanah kami, dan memerangi kuman yang merusak tanah kami.
Kami bersamamu.
- Untuk semua proletariat di Indonesia
Ya, termasuk gw juga, secara semua penduduk Jakarta adalah pengguna jalan di kota Jakarta juga tentunya. Beberapa kritik yang ingin saya sampaikan kepada diri saya, serta pengguna jalan lainnya antara lain adalah,
Contoh, jangan mentang-mentang jalan memotong yang berlawanan arus jalan utama di rel kereta Pasar Burung Pramuka adalah lebih pendek daripada memutar jauh di Pasar Genjing, atau perempatan Matraman, Anda jadi berhak melewati jalan itu. Bikin orang lain susah, bikin macet yang lain juga. Anda bukan satu-satu-nya yang mungkin dikejar waktu pagi itu, atau Anda juga bukan satu-satunya yang butuh lewat jalan itu pagi itu. Jadi jangan merasa Anda yang paling penting, sehingga Anda berhak melawan peraturan tersebut, dan membahayakan diri Anda, juga diri orang lain
Contoh, mentang-mentang Anda adalah pemegang rekor balap motor di So-Called-Motor-Community-di-Gedung-Kantor-Anda, bukan berarti Anda berhak kebut-kebutan di Jalan, dengan motor Anda yang bising, atau Anda berhak nyelak dan memotong jalur orang seenaknya aja. Anda memang jagoan, tapi jagoan juga manusia, dan kecelakaan adalah temennya manusia yang ceroboh dan arogan.
Jadi pelase deh, gak usah sok-sok-an ngebut, dan ngebahayain diri sendiri dengan mencoba nyelonong lampu merah, meskipun lagi kosong. Nyelonong lampu merah paling cuma menambah 5 detik ekstra waktu Anda. Kalau mau signifikan dan sampai rumah lebih cepat, atau tepat waktu, Anda pergi lebih awal, 30-60 menit dari jam sebenarnya. Dijamin, kalau tidak ada aral yang melintang, Anda akan datang lebih cepat, dan Anda bisa berkendaraan lebih santai, gak perlu jadi jagoan, dan sok-sok-an nantang maut.
Semua orang butuh duit, semua orang nyari makan di Jakarta, semua yang nyari makan di Jakarta pake jalan yang sama dengan yang elo pake. Artinya, bukan berarti mentang-mentang muatan lagi sepi, atau Anda lagi stress di kantor, Anda bisa bebas berlaku seenaknya di Jalan. Sadarilah, kita semua makhluk sosial, yang saling butuh satu sama lain.
Jelas, ketika Anda menggunakan kendaraan dinas atau pribadi Anda, dengan dikawal oleh voorijder ataupun mobil ajudan Anda, yang mensterilkan jalanan, Anda tidak merasakan kemacetan jalan, Anda tidak tahu masalah yang dihadapi masyarakat Jakarta. Anda berhak menggunakan fasilitas tersebut, jelas, karena Anda kami pilih, dan kami gantungkan hidup dan kenyamanan kami di kota ini pada Anda. Jadi tolong, kalau fasilitas itu Anda gunakan, Anda bisa tunjukkan timbal balik-nya terhadap kemajuan sistem transportasi (atau sistem lainnya), di kota ini. Kalau, kami ngalah dan ngasih jalan kendaraan ke Anda, dan Anda tidak berbuat sesuatu atau tidak ada progress yang cukup berarti untuk kota ini, buat apa kami kasih jalan ke Anda, dan BUAT APA KAMI BAYAR PAJAK!!!
Karena, menurut saya pribadi, apabila kita menggunakan fasilitas tersebut dengan baik dan benar, dan para pejabat berpihak pada mereka, maka kemacetan di Jakarta akan teratasi. Solusi menangani kemacetan, bukan dengan menambah jalan, tapi mengefektifkan mass transportation. Dan itu ada pada armada kendaraan umum. Dan Armada kendaraan umum bukan hanya busway. Jadi ada baiknya pengembangan sistem transportasi umum lainnya, bus kota, metro mini, dan lain sebagainya, ikut ditingkatkan.
Meningkatnya volume kendaraan bermotor di jalan Jakarta (contoh motor bebek), menurut saya pribadi adalah bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap solusi transportasi yang ditawarkan pemerintah kota Jakarta. Emang ada yah solusi yang ditawarkan? Jadi masyarakat mengambil keputusan sendiri, dengan menggunakan jasa kredit yang menguntungkan produsen motor dari luar negeri, dan terus menghabiskan cadangan minyak, cadangan devisa yang digunakan untuk mensubsidi BBM tersebut. Seandainya mass transportation system kita cukup baik, volume kendaraan bermotor dapat dikurangi. Karena 50 motor/mobil yang tadinya memenuhi jalan, mungkin dapat dikurangi menjadi hanya 1 bus umum.
Buruk perangai masyarakat dapat diketahui dengan dengan mudahnya mereka mengumpat sesama masyarakat Indonesia sendiri, cuma karena hal-hal sepele.
Ah, sebuah kritik bagi saya pribadi, dan pada masyarakat Jakarta itu sendiri. Semoga keadaan masyarakat kita akan lebih baik, pengangguran berkurang, rawan pangan berkurang, sehingga kita bisa bekerja dan bermasyarakat dengan lebih baik lagi.
“Gak Di,
Tuhan ga pernah salah.” - ka el
Bagaimana mungkin gw lupa apa yang pernah gw tulis dulu,
Rabbana ma khalaqta haazhaa baathila, subhaana faqinaa azaaban-nar.
“Our Lord! not for naught hast thou created (all) this! Glory to Thee! Give us salvation from the Penalty of the Fire.”