Bagaimana seharusnya menangis, meratapi waktu yang telah lama berjalan seiring dengan kesia-siaannya, ketika keangkuhan menutupi kelopak mata. Bagaimana seharusnya meneriakkan kekesalan dalam hati, mengepal tangan, menantang langit, atas semua hal yang terjadi di luar kuasamu. Dunia yang tidak berputar pada poros yang sealinea dengan kamu. Dunia yang berputar ketika kamu justru diam di tempat mencoba mengulurkan tangan menarik mereka yang di sekitarmu. Dunia yang mentertawakanmu atas semua darah yang telah tercucur. Air hujan yang menggericik di tengah malam, perlahan menahan rasa sakit dan panas hati. Nyala api di pusat ruangan pun hanya seredup matamu yang menatap bayangan dari api. Bayangan yang seharusnya berlari mengejarmu, tetapi kini kamu yang berlari mengejar bayangan. Mata, pikiran, panca indera, kaki, tangan, badan, hanyalah instrumen. Instrumen kegagalan yang kau buat dari hati yang kotor.
Seharusnya pejamkanlah mata, istirahatkan angkuhmu. Lupakan masa depanmu. Hiduplah untuk hari ini. Pergi dan keluarlah untuk hari ini saja. Biarkan mereka yang telah pergi di belakang kamu. Biarkan mereka yang akan berlari jauh di depanmu. Hendaklah hati yang telah kotor itu mengingat, bahwa duniamu berputar atas kuasamu. Atas nama hati yang bergejolak untuk berontak, lepaskan semua panca inderamu. Termasuk di dalamnya otakmu. Lepaskanlah, lepaskanlah, jadilah manusia tanpa nafsu, jadilah manusia tanpa otak, jadilah manusia tanpa hati. Jadilah ruh. Jadilah malaikat. Jadilah cahaya.
Maka tertawalah …
Duniamu berputar atas kehendakmu.
Dahsyat!
bgt !