Kepada, titik-titik hujan beserta sekawanan awan gelap yang bergantung di langit. Sepertinya dirimu adalah sekawanan akal yang sama denganku. Atau akulah tawanan sejatimu. Semenjak matahari tak berkunjung pada siang ini. Engkau menguasai mata hati dengan memaksa mereka tak sejenakpun mampu bersirat senyum. Kemudian pada saat titik-titik hujan itu menghilang, dan nyala matahari menjadi utama, saat itu juga absurditas hati tetap menjadi kristal, stalaktit yang memenuhi kekosongan hati. Menjadi setumpuk kotoran yang memampatkan adrenalin-adrenalin kebahagian. Memupuk terus organisme pemakan kotoran, melalui hatimu yang terus luntur dibasuh hujan. Menuju kebinasaanmu. Memaksa untuk terus berdiri dalam diatas kuburan hati yang lubangnya terus tertutup bulir-bulir pasir. Membawa kegelapan sebagai warna kebinasaanmu. Membawa kesunyian sebagai nyanyian yang menemani kebinasaanmu. Sendiri. Menapaki tanah hitam yang menjadi dasar akan keabadian kebinasaan. Ketika itu, tak hanya burung bangkai yang menantikanmu, mereka yang menjadi penghuni neraka bersuka cita menunggumu disana. Ada juga yang bersedih melihatmu binasa, tapi itu kesedihan kosong, sekejap sesudah itu, engkau hanyalah sejarah. Sejarah yang tak perlu diulang, karena pelaku sejarah sepertimu bukan hanya satu.
Pergilah. Binasalah. Jangan pernah ada lagi.
Seharusnya kamu pergi kembali ke permulaan malam.
Memohon padaNya yang menjaga malam-malam kamu. Berpegang teguh pada keyakinan.
October 29, 2008 at 7:51 pm
Pergilah..