Monolog malam telah usai, terlepas bersama harapan yang mulai perlahan dikikis hujan yang datang terlalu awal. Bagimu, para pejuang yang mempertahankan malam, pekik suara kalian yang menantang keheningan dengan nyanyian himne kalian, adalah suara yang abadi.

K e k a l .

Harapan untuk hari esok yang lebih baik adalah kata-kata semu, karena pagi tak kan pernah datang. Selayaknya kalian ksatria pagi yang menjawab salammu, adalah bualan dongeng menjelang tidur bagi anak-anak dari para tetua bijak. Memupuk harapan atas kenyataan pada kebohongan. Kalian memuja apa yang tidak pernah nyata, kalian menyembah bualan-bualan yang dibuat otak kosong kalian sendiri, kalian adalah budak dari segala macam nafsu yang kalian yakini.

Hakimi hatimu! Hakimi otak kosongmu.

Apa lagi yang kau tangisi, apalagi yang kau perlu sesali. Tak ada yang nyata. Ia pergi tanpa sedikitpun mengucapkan salam kepadamu. Meninggalkanmu sendiri seperti kain lusuh. Membiarkanmu merajut benang-benang basah. Sebentar kemudian, melepaskanmu terbang menguap menuju awan hitam yang membawa petaka bagi semua orang.

Terpujilah para ksatria kegelapan.
Selamat datang, abad kegelapan.


Leave a Comment




  • Pages

  • Blog Stats

    • 20,802 hits
  • Archives

  • Top Posts