Mengucap Salam dan Membisikkan Doa
January 15, 2008Melalui mendung yang berkumpul di langit-langit metropolitan sore ini. Menggurat sebanyak-banyaknya awan itu dengan tangan kecilku, mencoba membuatkan jalan demi cahaya sore yang terasa hangat. Untuknya agar ia mampu meraih sedikit kehangatan membasuh wajahnya, tangannya, serta kepalanya. Mensucikan diri dengan cahaya kehangatan yang hakiki serta abadi, sebelum sesudahnya mengangkat tangan, bermunajat pada Penguasa Matahari.
Duniaku berputar dengan kamu didalamnya[1], sebagai poros yang menarikku kembali ke putaran orbit, apabila aku pergi menjauh dari jalan yang seharusnya kulalui. Kemudian mendekapku penuh kasih sayang. Untuk apa membaca doa untukmu yang menguasai hidupku, selayaknya engkau menarikku dalam setiap kata yang kau ucapkan sebagai doa
[1] Dari bukunya Adhitya Mulya, Gege Mengejar Cinta
January 15, 2008 at 11:30 pm
lagi kangen, ya, di?
January 20, 2008 at 7:00 pm
adeuh…