Sore Itu, Di Belakang Halaman Rumah Kami
November 11, 2007suatu hari nanti,
di belakang halaman sebuah rumah, ada anak kecil yang berlarian mengejar kupu-kupu, diantara rumput rumput yang sebisa mungkin dirawat, di pojok halaman belakang itu ditanami sedikit bunga-bunga. Mainan gelembung sabun yang sebelumnya dimainkan anak itu ditinggalkannya begitu saja di sudut dekat kran air. Sendal anak itu terbalik dipakai, yang kiri di kanan dan yang kanan di kiri, sehingga larinya sedikit oleng.
Sementara dua pasang mata, yang padanya terbentuk siluet bayangan dari balik jendela dapur yang menghadap ke halaman itu, seakan tak ingin menghilangkan satu dua detik tanpa mengamati anak kecil itu. Tersenyum. Piring-piring yang sedang dicuci, seperti dilanda kecemburuan, karena telah lama mereka dibiarkan kotor. Semenit mereka mencuci piring, lima menit kemudian terisi dengan pikiran kosong mengamati anak tadi.
Sore itu, setelah siangnya diguyur hujan, tiap-tiap titik sisa air hujan di rerumputan yang terinjak lelaki kecil itu, seperti menuliskan cerita-cerita. Cerita yang berjuang agar tiap hurupnya dapat selalu tertulis, sehingga paragraf demi paragraf dapat tertata rapi menjadi bab-bab, yang kemudian mengabadikan makna cahaya yang tak pernah terputus terbit di Timur dunia setiap pagi, atas keputus asaan belaian badai malam tadi. Cerita yang bermula dari satu paragraf harapan, berakhir menjadi buku yang tak pernah selesai ditulis dengan bahasa syukur.
Anak itu kemudian terpeleset, dan terjatuh. Tangisan kecil anak kecil tadi berujung pada tawa kami yang berduaan mengamati anak tadi dari balik jendela dapur. Sang Ibu, kemudian keluar mendekati anak itu, sambil menenangkan tangis lelaki kecil, yang padanya tertanam harapan, serta catatan harapan yang telah menjadi bukti kenyataan. Sementara aku, kemudian berjalan perlahan berdiri di batas pintu yang menghadap halaman, berpangku tangan. Tertawa kecil, melihat sang Ibu menggendong lelaki kecil yang kemanjaannya menimbulkan iri tersendiri di hatiku.
Sore itu, di sudut halaman rumah kami. Semoga Yang Maha Kuasa meridhoi tiap mimpi kami.
November 14, 2007 at 1:54 pm
setelah ini “pagi di halaman depan rumah kami”
November 14, 2007 at 3:52 pm
jadi, kapan kawin?
November 17, 2007 at 4:51 am
amin bang…
December 5, 2007 at 7:53 pm
hmm.. jago kali bos besar ini bikin yang lain ngiler..
nikah juga ah..!
January 4, 2008 at 6:27 pm
udah ganteng, romantis pula lagi. ck ck ck…
January 16, 2008 at 9:39 pm
memang benar apa yang dikatakan ybs
* cring, mengilang *
January 30, 2008 at 12:17 am
setelah sekian lama baru mampir lagi kemari. dan ternyata oh ternyata….
cepatlah menikah bang!
anakku perlu teman bermain!!
February 20, 2008 at 2:40 pm
amin