“PERSETAN DENGAN ITU SEMUA”
“Loh kenapa”
“KAMU MENGASIHANI DIRI KAMU!”
“Tidak”
“KAMU MENCOBA LARI DARI KENYATAAN, DENGAN MENCERITAKAN ITU SEMUA”
“Ah, kamu salah persepsi”
“INGAT, KETIKA KAMU MENGETIKKAN KATA-KATA ITU DALAM KEYBOARD KAMU, AKU ADA DI SAMPING KAMU!”
“Tapi tidak ketika ide-ideku muncul”
“IDE KAMU TIDAK PERNAH MUNCUL, JERITAN TANGIS HATIMU YANG MUNCUL, TOLOL!”
“Jadi kalau aku begitu, aku salah?”
“YA DAN TIDAK”
“ah, lihat, siapa sekarang yang MENCOBA LARI DARI KENYATAAN?”
“YA, KETIKA MEMANG KEJUJURAN SEORANG PENGARANG YANG MUNCUL DALAM KATA-KATA YANG KAMU TULIS!”
“Lalu tidaknya?”
“KAMU TIDAK JUJUR DALAM MENGARANG”
“Kamu Tuhan?”
“BUKAN”
“Lalu, APA HAKMU menilai aku tidak jujur”
“AKU JUGA ISI KEPALAMU. DAN JANGAN COBA BAWA-BAWA TUHAN!”
“Baik, kamu memang isi kepala, tapi bukan isi hati”
“AKU MUNCUL KETIKA HATIMU TAK MAMPU MENILAI MANA BENAR DAN SALAH”
“Naif sekali kamu, JUSTRU HATI yang bertindak ketika otak tak mampu berpikir terang”
“HATI YANG MANA YANG MAMPU MENGGANTIKAN OTAK, KETIKA HATIMU KOTOR SEPERTI ITU”
“Maaf kali ini aku harus bawa Tuhan lagi. Apa kamu Tuhan yang bisa menilai HATIKU?”
“BUKAN, TAPI AKU BAGIAN DARI EKSISTENSI HATI”
“Ah sudahlah, kamu tidak logis dalam menilai aku, terlalu subjektif, pernahkah kamu datang ke tempat terdalam asal semua kata manis itu berada. Pernahkah kamu tahu, berapa panjang perjalanan yang ditempuh, hingga lahir kata manis itu berada. Apakah pernah terpikir oleh kamu, pergulatan kata hati yang terjadi ketika penulisan itu. Terakhir, kalau memang kamu bersama aku, tak bisakah kau melihat nilai-nilai kejujuran yang memang ada dalam kata-kata itu?”
“TIDAK, KAMU MATI SAJA. KAMU TIDAK BERGUNA. INGAT AKU LAHIR DARI RAHIM YANG SAMA DENGAN KATA-KATA MANISMU. KAMU TIDAK PAHAM ARTI SUBJEKTIFITAS DAN OBJEKTIFITAS. TIDAK MEMAHAMI SEPENUHNYA PERJALANAN YANG HARUS DITEMPUH. TIDAK SADAR KENAPA ADA PERGULATAN HATI ITU. TERAKHIR, YA AKU MEMANG BERSAMA KAMU, DAN KAMU TIDAK JUJUR?”
“Pergilah ke permulaan malam, sebelum semua makhluk tidur, doa apa yang aku panjatkan?”
“AKU TELAH KESANA, DAN KAMU TIDAK JUJUR”
“Ketika malam telah mencapai titik tertingginya, apakah kamu menyaksikan, aku tetap terjaga, dan masih memanjatkan doa yang sama?”
“AKU MENEMUI KETIKA SAAT ITU TIBA, DAN KAMU TIDAK JUJUR”
“Lalu, ketika matahari mulai bersiap untuk kembali bersinar. Apakah kamu tidak tahu, bahwa aku masih terjaga berlinang air mata, terlirih-lirih, masih memanjatkan doa yang sama?”
“AKU TAHU, DAN ITU BODOH!”
“Ketika, badan ini mulai kehabisan energinya, namun mulutku tak pernah sinkron dengan itu, hingga tak satupun makanan yang masuk. Apakah kamu tahu hal itu?”
“AKU TAHU, DAN ITU LEBIH BODOH!”
“Baiklah, kamu pasti ikut merasakan, ketika terjadi malfungsi pemikiran, atas tiap suasana yang ada”
“AKU IKUT MERASAKAN, DAN AKU MENYALAHIMU ATAS HAL ITU.
“Apakah kamu tahu alasannya?”
“APAKAH KAMU INGIN TERUS MENDAFTAR KEBODOHANMU?”
“Aku tidak bodoh, aku hanya ingin mencoba untuk jujur.”
“SUDAH BODOH, TIDAK JUJUR PULA”
“Kamu ingin apa?”
“EKSISTENSI DAN HAKIKAT HIDUP MANUSIA ADALAH PERJUANGAN. KENYATAAN DAN LANGKAH ATAS PERJUANGAN MANUSIA ITU ADALAH PERJALANAN PANJANG DENGAN HIASAN DARAH DAN AIR MATA. NILAI DARAH DAN AIR MATA YANG TERKORBANKAN, PADA AKHIRNYA ADALAH KENIHILAN BELAKA. PENYADARAN DAN BAHKAN KESADARAN YANG AKAN MUNCUL DARI NILAI BELAKA ITU LAHIR KETIKA MANUSIA MULAI MENEMUI TITIK NADIRNYA. PADA AKHIRNYA TETAP MANUSIA AKAN MEMILIH, UNTUK TERUS BEREVOLUSI DAN MENERUSKAN KEEKSISTENSIANNYA, ATAU MELEMAH DAN TERSINGKIRKAN. UNTUK BEREVOLUSI DAN MENERUSKAN EKSISTENSINYA, MANUSIA HARUS SADAR AKAN EKSISTENSI DAN HAKIKAT HIDUPNYA. DEMIKIAN SETERUSNYA MENJADI RANTAI YANG TAK PERNAH PUTUS, YANG PERULANGANNYA SEBANYAK BINTANG YANG DIMILIKI LANGIT. KECUALI, JIKA DAN HANYA JIKA, MANUSIA MENYERAH, INILAH YANG KEMUDIAN DIKENANG SEBAGAI KERUNTUHAN GRAVITASI ORBIT BENDA LANGIT.”
“Dalam sisi keagungan dan kemuliaan Tuhan atas penciptaan manusia, dititipkannya sedikit kelembutan agar mengimbangi kekasaran logis manusia. Kenyataan dan eksistensi atas kelembutan tersebut adalah kehati-hatian dalam melangkah. Langkah-langkah tersebut kemudian yang menentukan nilai darah dan air mata yang harus dikorbankan. Kemudian atas setiap langkah tersebut, manusia diberikan akal untuk menilai apa yang telah dilakukannya. Atas semua yang telah dilakukan dalam tiap langkahnya, manusia dapat menghindarkan dirinya secara semi-automatis agar tidak memenuhi titik nadirnya. Evolusi tetap akan terjadi, namun dalam langkah yang lebih harmonis. Mereka yang tidak mampu memenuhi tuntutan perubahan tetap akan tersingkirkan, namun Ia bisa pergi dengan senyum bahagia, karena memilih langkah-langkah yang tepat, dan takdir kepergiannya adalah suatu pilihan yang baik juga. Gravitasi akan tetap terjaga.”
“PERGILAH, KEMBALI KE UJUNG MALAM, PIKIRKAN KATA-KATAKU JUGA KATA-KATAMU. KEBIJAKSANAAN LAHIR JIKA KAMU MAMPU MEMANDANG SEMUA MENGGUNAKAN MATA YANG SAMA”
“Aku tidak akan pergi ke ujung malam, aku akan kembali permulaan malam. Melihat matahari yang mulai melemah. Aku akan menyerap kekuatannya”
“KEMUDIAN, TEMUI AKU DALAM 18 DETIK SEBELUM MATAHARI TERBIT”
“Akan kutemui kamu dalam kebijaksanaan yang akan tercipta dalam 18 DETIK SEBELUM MATAHARI TERBIT itu”