Buruknya Pengguna Jalan di Jakarta

April 20, 2008

Ya, termasuk gw juga, secara semua penduduk Jakarta adalah pengguna jalan di kota Jakarta juga tentunya. Beberapa kritik yang ingin saya sampaikan kepada diri saya, serta pengguna jalan lainnya antara lain adalah,

  • Jangan merasa seperti elo adalah yang paling penting di jalan!
  • Contoh, jangan mentang-mentang jalan memotong yang berlawanan arus jalan utama di rel kereta Pasar Burung Pramuka adalah lebih pendek daripada memutar jauh di Pasar Genjing, atau perempatan Matraman, Anda jadi berhak melewati jalan itu. Bikin orang lain susah, bikin macet yang lain juga. Anda bukan satu-satu-nya yang mungkin dikejar waktu pagi itu, atau Anda juga bukan satu-satunya yang butuh lewat jalan itu pagi itu. Jadi jangan merasa Anda yang paling penting, sehingga Anda berhak melawan peraturan tersebut, dan membahayakan diri Anda, juga diri orang lain

  • Ga usah sok jadi jagoan
  • Contoh, mentang-mentang Anda adalah pemegang rekor balap motor di So-Called-Motor-Community-di-Gedung-Kantor-Anda, bukan berarti Anda berhak kebut-kebutan di Jalan, dengan motor Anda yang bising, atau Anda berhak nyelak dan memotong jalur orang seenaknya aja. Anda memang jagoan, tapi jagoan juga manusia, dan kecelakaan adalah temennya manusia yang ceroboh dan arogan.

  • Semua orang pengen sampai rumah cepat, atau sampai tepat waktu
  • Jadi pelase deh, gak usah sok-sok-an ngebut, dan ngebahayain diri sendiri dengan mencoba nyelonong lampu merah, meskipun lagi kosong. Nyelonong lampu merah paling cuma menambah 5 detik ekstra waktu Anda. Kalau mau signifikan dan sampai rumah lebih cepat, atau tepat waktu, Anda pergi lebih awal, 30-60 menit dari jam sebenarnya. Dijamin, kalau tidak ada aral yang melintang, Anda akan datang lebih cepat, dan Anda bisa berkendaraan lebih santai, gak perlu jadi jagoan, dan sok-sok-an nantang maut.

  • Semua orang sama nyari makan di jalan
  • Semua orang butuh duit, semua orang nyari makan di Jakarta, semua yang nyari makan di Jakarta pake jalan yang sama dengan yang elo pake. Artinya, bukan berarti mentang-mentang muatan lagi sepi, atau Anda lagi stress di kantor, Anda bisa bebas berlaku seenaknya di Jalan. Sadarilah, kita semua makhluk sosial, yang saling butuh satu sama lain.

  • Pejabat Pemerintahan Kota Jakarta: Tolong coba ikut naik kendaraan umum
  • Jelas, ketika Anda menggunakan kendaraan dinas atau pribadi Anda, dengan dikawal oleh voorijder ataupun mobil ajudan Anda, yang mensterilkan jalanan, Anda tidak merasakan kemacetan jalan, Anda tidak tahu masalah yang dihadapi masyarakat Jakarta. Anda berhak menggunakan fasilitas tersebut, jelas, karena Anda kami pilih, dan kami gantungkan hidup dan kenyamanan kami di kota ini pada Anda. Jadi tolong, kalau fasilitas itu Anda gunakan, Anda bisa tunjukkan timbal balik-nya terhadap kemajuan sistem transportasi (atau sistem lainnya), di kota ini. Kalau, kami ngalah dan ngasih jalan kendaraan ke Anda, dan Anda tidak berbuat sesuatu atau tidak ada progress yang cukup berarti untuk kota ini, buat apa kami kasih jalan ke Anda, dan BUAT APA KAMI BAYAR PAJAK!!!

  • Hargailah Pengemudi Kendaraan Umum
  • Karena, menurut saya pribadi, apabila kita menggunakan fasilitas tersebut dengan baik dan benar, dan para pejabat berpihak pada mereka, maka kemacetan di Jakarta akan teratasi. Solusi menangani kemacetan, bukan dengan menambah jalan, tapi mengefektifkan mass transportation. Dan itu ada pada armada kendaraan umum. Dan Armada kendaraan umum bukan hanya busway. Jadi ada baiknya pengembangan sistem transportasi umum lainnya, bus kota, metro mini, dan lain sebagainya, ikut ditingkatkan.
    Meningkatnya volume kendaraan bermotor di jalan Jakarta (contoh motor bebek), menurut saya pribadi adalah bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap solusi transportasi yang ditawarkan pemerintah kota Jakarta. Emang ada yah solusi yang ditawarkan? Jadi masyarakat mengambil keputusan sendiri, dengan menggunakan jasa kredit yang menguntungkan produsen motor dari luar negeri, dan terus menghabiskan cadangan minyak, cadangan devisa yang digunakan untuk mensubsidi BBM tersebut. Seandainya mass transportation system kita cukup baik, volume kendaraan bermotor dapat dikurangi. Karena 50 motor/mobil yang tadinya memenuhi jalan, mungkin dapat dikurangi menjadi hanya 1 bus umum.

  • Saling menghormati sesama pengguna jalan
  • Buruk perangai masyarakat dapat diketahui dengan dengan mudahnya mereka mengumpat sesama masyarakat Indonesia sendiri, cuma karena hal-hal sepele.

Ah, sebuah kritik bagi saya pribadi, dan pada masyarakat Jakarta itu sendiri. Semoga keadaan masyarakat kita akan lebih baik, pengangguran berkurang, rawan pangan berkurang, sehingga kita bisa bekerja dan bermasyarakat dengan lebih baik lagi.


Tuhan Ga Pernah Salah

April 10, 2008

Gak Di,

Tuhan ga pernah salah.” - ka el

Bagaimana mungkin gw lupa apa yang pernah gw tulis dulu,

Rabbana ma khalaqta haazhaa baathila, subhaana faqinaa azaaban-nar.

“Our Lord! not for naught hast thou created (all) this! Glory to Thee! Give us salvation from the Penalty of the Fire.”


Selayaknya Pagi Menjawab Salammu

April 9, 2008

Monolog malam telah usai, terlepas bersama harapan yang mulai perlahan dikikis hujan yang datang terlalu awal. Bagimu, para pejuang yang mempertahankan malam, pekik suara kalian yang menantang keheningan dengan nyanyian himne kalian, adalah suara yang abadi.

K e k a l .

Harapan untuk hari esok yang lebih baik adalah kata-kata semu, karena pagi tak kan pernah datang. Selayaknya kalian ksatria pagi yang menjawab salammu, adalah bualan dongeng menjelang tidur bagi anak-anak dari para tetua bijak. Memupuk harapan atas kenyataan pada kebohongan. Kalian memuja apa yang tidak pernah nyata, kalian menyembah bualan-bualan yang dibuat otak kosong kalian sendiri, kalian adalah budak dari segala macam nafsu yang kalian yakini.

Hakimi hatimu! Hakimi otak kosongmu.

Apa lagi yang kau tangisi, apalagi yang kau perlu sesali. Tak ada yang nyata. Ia pergi tanpa sedikitpun mengucapkan salam kepadamu. Meninggalkanmu sendiri seperti kain lusuh. Membiarkanmu merajut benang-benang basah. Sebentar kemudian, melepaskanmu terbang menguap menuju awan hitam yang membawa petaka bagi semua orang.

Terpujilah para ksatria kegelapan.
Selamat datang, abad kegelapan.


Modern Bandung

March 13, 2008

I wish i can write this in English, so that anyone, not just Indonesian, can understand my thinking and my point of view about this beloved city. But, let’s just talk like an Indonesian actress who being quite a hot blog topic few weeks ago. Chinca Lawra. * halah *

So, as I posted in this blog last year (or 2006), there’s so many changes happened in this Parijs van Java. I wouldn’t want to talk seriously about the change. Because it’s a just junk feeling from my brain. I didn’t spend much time in Bandung for the past two years, only at weekends when this city is crowded with visitors. And, I spent much of my time in Bandung, at Buah Batu or Cibiru, southern part of Bandung, which more like suburban area. Away from Dago, Braga, and any other tourism area.

Lucky me, my manager offered me to take course in Bandung. So I spent 5 days in Bandung, stay in nice hotel in Dago Atas (I wouldn’t mention the hotel because i have little negative comment about this hotel). Enjoying fresh air, nice green grass in the garden behind my room here in the hotel. Bandung at this time, remind me of first time I came to Bandung, it was 1998, and it always raining at noon. Smell of fresh air is the menu for lunch.

Since, I have many memories here, so I tried to spend sometimes to look around for my favorites food when I was stay here in Dago area. There was a good Soto Jakarta and Ayam Cola food stall at Simpang Dago. Late 2006 they opened another branch of Soto Jakarta, near Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP) in Cisitu area). I really want to tasted Ayam Cola at my first night here in Bandung. It’s just standard chicken baked with cola * I don’t know how to describe it in English, you can ask someone else who know about it - sorry *. But it was just unlucky for me, or it’s just I couldn’t find the food stall. I couldn’t found it Simpang Dago area, and also in Cisitu.

We entered Cisitu area from Istana Dago housing complex, it’s a big-nice-lux housing complex, but the rain has beaten the paved road to become as bad as Gatot Subroto road in Jakarta. Shame on all local government, they charged tax but no service has been delivered to their citizens. Coming down the road to Cisitu Baru, I saw a lot of new building still under construction. This thing has came to my mind before I left Cisitu, the economy has grown in Cisitu, now there’s a lot of new Houses that their rooms are available for rent. My analysis is, since many new habitant of Cisitu area come from Jakarta, those who can afford to pay good money for good rooms, and driving good car in small-narrow-street of Cisitu, so there’s a lot of new nice house built in Cisitu. Thus this area has become some middle to upper area. Don’t sue me because of my opinion, it was just a way I looked at Cisitu this day.

The next night I spent in Bandung, mostly I spent in my hotel rooms. I only to find some food. One night, I went to a famous small Chinese food restaurant in Tubagus Ismail. This is my escape place, when I don’t have any idea what should I eat. I ordered Nasi Goreng, as usual like the old days. But, maybe the usual chef has been promoted somewhere, the Nasi Goreng was not as good as I used to eat a few years back.

Time goes by, people changes, even all the static thing has change because of us wanted to change it.

But memories still remain the same. I love this city.


Alasan

March 7, 2008

Sekian lama tidak menulis, sekian lama produktivitas (atau produktifitas?) dikesampingkan atas nama kesibukan. Padahal hanya ketidak-becusan manajemen waktu!!! Dalih,”sebenarnya sih banyak yang pengen ditulis, tapi, begitu ke depan laptop, jadi hilang semua yang pengen ditulis”. Ya itu cuma dalih.

Oke, dalih yang lebih baik lagi sekarang,

Saya lagi seneng membaca sekitar, daripada menulis tentang sekitar.

* halah *