It’s been 8 years passed. Last 4 years just cursing around. I should have made decision long long time ago. Is it too late. Or even I’m now actually making the right decision.

I don’t know know, the only thing that can answer that is to really do it.

One of memory of being “Kopral” during Diklatsar HMGF ITB,

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak; and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat and humble and gentle in victory.
Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee — and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high, a son who will master himself before he seeks to master other men, one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain!”

A prayer from General McArthur to his son.

 

Now I’m thinking maybe it’s better to give up. Just stay here, in the comfort zone. Do nothing. Accept the fact that I’m not going anywhere.

Saya. Hakim. Bukan seseorang yang Anda temui di pengadilan. Orang tua saya menamakan saya demikian, agar katanya saya menjadi orang yang adil. Orang yang tegar dalam kebenaran. Orang yang jujur. Di penghujung dekade ke tiga hidup saya, saya yakin saya bukan jujur, dan saya bukan tegar dalam kebenaran. Terlalu polos, atau naif. Kalau tidak mau dibilang bodoh. Salah bukan saya yang buat. Tapi begitu indah melihat dunia dari seorang mata anak-anak. Ya betul, saya tidak mau tumbuh menjadi dewasa. Mata anak-anak adalah mata yang paling murni. Bukan mata yang haus dan rakus akan dunia.

Orang bilang saya aneh. Saya bilang orang lain aneh. Tidak ketemu dimana seharusnya bertemu. Tidak perlu disimpulkan, karena memang aneh menarik kesimpulan kalau memang tidak ada yang titik temu untuk simpul tadi. Mari bicara dengan saya. Saya senang cerita. Saya senang hal yang fiksi. Kita bisa bicara banyak hal. Bicara tanpa ujung, atau dengan ujung. Boleh juga bicara dari awal. Tentang deret peristiwa. Deret yang berawal juga berujung. Awalnya sudah terjadi, ujungnya belum ditulis.

Dalam wilayah hati, peristiwa adalah muasal rasa hati. Katakanlah Anda berada dalam peristiwa riang, maka rasa hati bisa menjadi manis. Manis yang tidak terkait dengan momentum. Karena momentum tidak dapat dibuat. Percaya atau tidak, Anda duduk atau berdiri ketika membaca ini, tidak disebabkan oleh satu hal. Mungkin ini hanya deretan peristiwa.

Peristiwa tidak dapat ditangkap. Peristiwa tidak dapat digambar. Peristiwa tidak dapat difoto. Dia hanya bisa dijalani, dialami. Seperti halnya saat saya bertemu dia. Sekian kerasnya mencoba agar peristiwa yang sama diulang, digambar, dilihat kembali. Nilai dari deret peristiwa tadi tidaklah sama. Mencoba mencerna urutan sebelum peristiwa. Bagaimana memulai dari menggambar garis lekuk pipinya, mencoba menggurat cara dia menggerak bibir untuk membuka kata. Lalu mencoba menerangkan kembali kenapa saya diam, tanpa ada balas jawab atas apa yang dia yang tanya.

Manusia bisa bicara banyak, tapi entah mungkin kepada makhluk itu, saya tidak mampu bicara banyak. Bukan karena ingin efektif, apalagi efisien. Dalam suatu gerak, mungkin ada gaya lain yang menahan untuk tidak terus maju. Untuk tidak terus bicara. Atau memang tidak dapat bicara. Kemampuan bicara yang dimiliki sejak dulu hilang. Dalam keragaman interpretasi atas peristiwa mata saya yang bertemu mata dia.

Maka memang ini adalah deretan peristiwa, dari sekian deretan lain. Dengan suatu momentum yang tidak saya buat-buat. Ini adalah kehendak Dia yang lebih berkuasa. Istilahnya sebuah karya, maka pertemuan ini adalah awal dari karya yang agung. Abadi dalam rasa bagi saya yang menulis. Ini memang hanya deretan peristiwa. Dengan saya sebagai subjek, juga dia sebagai subjek. Langit sore dengan udara yang sedikit panas di pendopo gedung usang itu sebagai latar. Adalah awal.

Ini adalah awal, dari kerinduan untuk bertemu. Di ujung laut kalau memang ada ujungnya. Bercerita tentang malaikat. Ini bukan kisah saya, ini kisah dia.

 

Namanya Gabriel, Jibril kalau kata orang Indonesia mah. Sudah barang tentu nama ini pasti mengundang banyak tanya. Dan tentulah seperti kebanyakan sifat buruk manusia lainnya, setiap orang yang mendengar namanya, atau sampai melihat orangnya, pasti sudah mempunyai prasangka. Entah itu buruk, atau itu baik.

Pendiam, tidak seperti kebanyakan wanita lain di sekelilingnya. Tuh kan, pasti ada prasangka yang menganggap Ia adalah seorang pria. Apalagi kalau sampai orang tahu dia adalah ahli di bidang Geologi. True rock scientist. Seandainya Anda pernah bepergian bersama dia, katakanlah menyusuri jalan Jakarta-Bandung, tidak lewat Cipularang. Tapi jalan menyusuri Padalarang, terus ke arah Citatah, melihat singkapan batu kapur, atau entah batuan-batuan apalagi. Dia akan bercerita seperti anak kecil yang baru saja menjalani hari pertamanya di sekolah. Dan seandainya saja, Anda menemani Ia berjalan menyusuri Bandung, dia mungkin akan bercerita banyak bagaimana kisah mangkok Bandung ini. Bedanya anak kecil yang baru pulang dari hari pertamanya di sekolah bercerita dengan suka cita, Gabriel bercerita dengan antusias laiknya mahasiswa doktorat mempertahankan disertasinya.

Sekeras-kerasnya batu, perlahan-lahan air yang mengikisnya pun akan menembusnya. Sekeras-kerasnya hati, perlahan-lahan pun akan luluh juga. Luluh, dalam artian sedih. Atau luluh dalam artian cinta. Semua bisa jadi. Pendiam, mungkin karena sedih. Atau mungkinkah ada perasaan lain yang membuatnya diam. Kekaguman. Atau sakit jiwa. Sukar menggambarkannya. Tapi dari jauh, sorot matanya seperti seseorang yang sedang berdiri di tepian dermaga, memandang jauh ke tengah laut. Sorot mata yang menunggu.

Kaki boleh memijak tanah yang berbeda, tetapi mata pasti memandang langit yang sama. Boleh jadi beda. Tetapi langit itu tak berujung, Anda yang memandang terus ke Utara, katakanlah dengan kekuatan super Anda terus memandang ke arah Utara, di ujungnya Anda akan memandang kembali posisi Anda. Betul ini adalah metafor. Tapi, ketika jauh melihat di dalam hati. Ada kesamaan, antara pandangan mata dan pandangan hati ketika melihat langit. Gelap yang terasa ketika melihat langit tanpa bintang. Seperti halnya melihat hati yang jauh dan kosong ketika tidak ada yang mengisi. Kemudian terasa terang langit ketika bulan memantulkan cahaya matahari, seperti halnya melihat hati ketika merasa senang ada yang mengisi.

Oh ya, perumpamaan memandang langit ini cuma terjadi ketika malam. Ketika siang, tidur. Bukan sebab kita ini makhluk malam, nokturnal. Sebab cahaya siang, boleh Anda coba memelototinya. Pasti sakit. Cuma malam yang Anda pandangi tanpa sakit. Kegelapan dan kesunyian tidak membuat Anda sakit. Tapi semua yang terang dan berisik membuat Anda jengah. Ketika siang, tidurlah. Istirahatkan imajinasi. Simpan untuk malam nanti.

Dia, Gabriel. Seorang yang ulung membaca sejarah bumi. Saya sudah bilang tadi, dia true rock scientist. Tapi dia tidak ulung membaca sejarah hati. Mungkin karena saya sama seperti dia. Sama-sama aneh. Terkadang kami bicara panjang. Bicara sejarah. Panjang tentunya. Karena namanya sejarah. Dia bicara sejarah bumi, saya bicara sejarah angka. Tidak nyambung. Sudah pasti. Tapi dia nyaman bicara dengan saya. Saya pun, kadang-kadang nyaman. Sama-sama aneh, tapi kadar aneh saya sedikit berbeda.

Istilahnya sebuah angka, bicara Gabriel, seperti sebuah deret bilangan. Yang hilang di tengahnya. Saya percaya dia berbohong. Tapi saya tidak ingin  bicara itu. Apalagi bicara itu kepadanya. Katakanlah Ia juga seperti angka yang lain, Ia seperti angka ganjil. Yang menunggu satu angka lagi untuk menjadi genap. Genap seperti halnya gelas yang terisi penuh. Ganjil seperti halnya gelas yang terisi setengah. Ia harus diisi dengan anggur lagi, agar menjadi gelas yang penuh dengan anggur. Tidak bisa diisi dengan air. Hilang sudah kemurniannya.

Ini cerita tentang Gabriel, bukan tentang saya. Tentang kesedihan Gabriel. Tentang cinta Gabriel. Nama seperti malailkat. Tapi Ia manusia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.