Beberapa pengalaman hidup belakangan ini membuat saya menyadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu sabar. Bagaimana tidak mungkin. Emosi adalah hal paling indah yang ada di manusia. Emosi mendorong manusia mencipta seni. Dan emosi juga yang mendorong manusia merugikan sesamanya. Dan dengan ilmu sabar, kita mencoba mengontrol tempo emosi.

Beberapa kali saya membaca ulang paragraf diatas, mencoba melanjutkan tulisan ini tanpa merubahnya menjadi seperti bahan ceramah standar di bulan puasa. Sepertinya memang sulit. Emosi mungkin. Hahaha. Jadi lanjut aja ke paragraf ke tiga.

Di paragraf ketiga ini, saya simpulkan bahwa, paragraf kedua adalah tidak berguna. Tidak ada kaitan antara paragraf ke satu dan kedua, kemudian dilanjut dengan paragraf ketiga semakin menunjukkan tulisan ini memang tidak berguna. Sampai dengan kalimat ketiga di paragraf ketiga, tidak ada isi dari apa yang saya coba sampaikan. Padahal saya sudah coba berlatih sabar untuk tidak terburu-buru dan emosional ketika menulis ini. Karena ide tulisan ini sudah ada dari hari Senin awal minggu lalu. Saya sabar sambil menganalisa keadaan, dan mencoba mengembangkan ide tersebut. Okelah, saya bagi kali ini emosi yang menang.

Supaya Anda tidak merasa sia-sia membaca, saya sarikan saja apa yang saya dapat dari tulisan ini, menulis membantu dalam mengontrol tempo emosi. Menulis membantu mendalami ilmu yang paling tinggi. Ilmu sabar.

Sabtu pagi, setelah seminggu yang penuh pembelajaran

10 Hari Menulis, ke 5.

Begitu banyak kejadian dalam hidup, yang terkadang kita tidak menyangka, kenapa hal itu terjadi. Suatu musibah tertimpa pada kita, kita mempertanyakan mengapa? Mengapa saya yang kena? Mengapa kejadiannya sekarang? Walaupun, kita hanya bertanya-tanya pada hal buruk yang menimpa kita saja. Jarang sekali mempertanyakan, “kok saya bisa dapat bonus lebih yah?”

“Mungkin memang jalannya harus begini”, begitu kata Istri saya. Di satu ketika membahas bahwa saya dan dia harus terpisah antara Jakarta dan Stavanger, untuk kemudian masih harus dibatasi tol Cipularang, antara Jakarta dan Bandung. Meski kemudian sekarang bareng-bareng di Kuala Lumpur. Di awal tidak akan tahu, nantinya  jalan panjang yang berliku itu akan berujung dimana.

Dan ketika sampai di ujung satu babak perjalanan, kemudian kita melihat ke belakang, baru kita sadar, mungkin jalannya memang harus begini. Beberapa hal memang terjadi, dan ada alasannya. “You can’t connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards”, begitu kata seorang yang selamat dari kanker pankreas, orang yang dipecat dari perusahaan yang dia buat sendiri, Steve Jobs.

Jadi kalau sekarang jalan yang Anda lewati terasa begitu berat. Mungkin memang jalannya harus begini, atau Anda memang nyasar :)

Desember, bulan kenangan

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
I am the captain of my soul.

 

William Ernest Henley

—-

This poem should be recite to remember the end of 2014 for me, and to take me to a better 2015 :)

 

It’s been 8 years passed. Last 4 years just cursing around. I should have made decision long long time ago. Is it too late. Or even I’m now actually making the right decision.

I don’t know know, the only thing that can answer that is to really do it.

One of memory of being “Kopral” during Diklatsar HMGF ITB,

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak; and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat and humble and gentle in victory.
Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee — and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high, a son who will master himself before he seeks to master other men, one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain!”

A prayer from General McArthur to his son.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.